Dalam rangka mempersiapkan penilaian lomba adipura tahun 2010 beberapa waktu yang akan datang, bupati Situbondo, H. Dadang Wigiarto, SH tepat pukul 09. 00 WIB, Jumat, (05/11) telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) langsung ke beberapa tempat fasilitas umum seperti terminal dan pasar.
Serangkaian sidak Bupati Situbondo, H. Dadang Wigiarto, SH ke pasar Mimbaan Baru dan terminal tersebut didampingi oleh sejumlah petinggi Dinas bawahannya termasuk kabag Humas Pemkab Situbondo, Jawa Timur (Jatim).Dan ketika tiba gilirannya mengunjungi pasar Mimbaan Baru Situbondo, pria mantan pengacara dan anggota DPRD tersebut sempat berdialog santai dengan salah satu pedagang di pasar tersebut. (ans)
Jumat, 05 November 2010
Satpol PP Malang Diduga Tebang Pilih Soal Reklame
Pemasangan reklame , iklan dan promosi adalah sumber PAD murni yang harus di kelola secara profesional guna meningkatkan pendapatan Kab Malang, Jawa Timur (Jatim)
namun yang terjadi masih banyak reklame liar dan reklame toko tanpa pajak masih berkeliaran dan terpasang di setiap pinggir jalan protokol di Kab Malang.
Salah satu EO sebuah perusahaan rokok terkenal di Jawa Timurberkoar-koar kepada beberapa insan pers yang mangkal di Pendopo yang katanya reklame toko milik perusahaannya banyak di tindak dengan alasan belum membayar pajak atau porporasi.
Menurut sumber tersebut “memang pihaknya mengakui beberapa reklame toko miliknya ada yang belum di pajakkan namun yang menjadi pertanyaan kami mengapa reklame pihaknya yang banyak di tindak tegas tanpa kompromi apa-apa dan tanpa pemberitahuan kepada kami?
Dan yang perlu kita tahu “lanjut nya “ pihaknya juga banyak menemukan pelanggaran di lakukan kompetitor lain yang jenis pelanggarannya sama yakni belum membayar pajak namun sampai saat ini belum di tindak tegas oleh pihak Satpoll PP dan itu jumlahnya tidak sedikit mas”ujarnya
Bambang Sumantri saat kami keterangannya tentang permasalahan ini mengatakan”pihaknya pasti akan menindak tegas apabila di lapangan di temukan pelanggaran , seperti reklame tanpa porporasi atau belum membayar pajak , namun semuanya harus menunggu giliran di daerah mana kami melakukan razia atau operasi.
Saat ini pihaknya masih berkosentrasi di daerah Lawang , Singosari , Pakisaji , kepanjen , Bululawang dan turen, dan mengenai temuan saudara yang katanya di daerah Bululawang , Turen dan Gondanglegi masih banyak reklame liar ,pihaknya akan langsung kroscek ke lapangan dan apabila terbukti pasti kami akan tindak tegas pelanggaran itu.
Dari hasil pantauan kami di lapangan , di Kab malang masih banyak terpasang reklame liar tanpa ada stempel dan pajak dari dispenda Kab Malang , dan ini menunjukkan kurang keseriusan dari pihak satpoll PP dalam menindak pelanggaran atau ada hal lain seperti kongkalikong pihak EO perusahaan dengan aparat di lapangan. (SEN/TIM)
Satuan Karya Pramuka Wana Bhakti Banyuwangi Ber-Out Bond di Kawasan Hutan Watudodol
Terhitung sejak nanti sore tepat pada pukul 15.00 WIB, Sabtu (02/10) hingga hari Minggu, (03/10) 2010, Saruan Karya Pramuka Wana Bhakti Banyuwangi akan selenggarakan kegiatan S.O.S 2010 yang berujuan untuk melatih para yunior dan mempererat tali kebersamaan antar pelajar se-Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim). Dan tempatnya diselenggarakan di tempat wisata hutan Watudodol.
“Kegiatan S.O.S 2010 ini berupa olah raga bergelantungan memakai out bond di areal wisata Watudodol yang diikuti oleh siswa-siswi SMU maupun SMK se-Kabupaten Banyuwangi dan semoga dengan adanya acara-acara semacam ini, tempat wisata hutan Watudodol akan terus optimal berbenah terutama dari segi promosinya berkelanjutan,” ujar Asper RPH Kalipuro, Koko, S.Hut kepada kompasiana di ruang kerjanya, Sabtu pagi, (02/10).
“Kegiatan S.O.S 2010 ini berupa olah raga bergelantungan memakai out bond di areal wisata Watudodol yang diikuti oleh siswa-siswi SMU maupun SMK se-Kabupaten Banyuwangi dan semoga dengan adanya acara-acara semacam ini, tempat wisata hutan Watudodol akan terus optimal berbenah terutama dari segi promosinya berkelanjutan,” ujar Asper RPH Kalipuro, Koko, S.Hut kepada kompasiana di ruang kerjanya, Sabtu pagi, (02/10).
Aku Telah Membangun Negeri Puisi
Telah kubangun sebuah negeri puisi
bersamamu di sini
dari dalam hati
aku pun mengerti
telah kubangun sebuah negeri puisi
dengan sejuta pilar demokrasi
yang diusung para penyair pinggiran
kami hanya meneruskan
sebuah peradaban dunia
Negeri Puisi, Medium Juli 2010
bersamamu di sini
dari dalam hati
aku pun mengerti
telah kubangun sebuah negeri puisi
dengan sejuta pilar demokrasi
yang diusung para penyair pinggiran
kami hanya meneruskan
sebuah peradaban dunia
Negeri Puisi, Medium Juli 2010
Tanah sengketa di Belakang Kantor Kelurahan Mimbaan Dimenangkan Rus Asdiman
Sebuah perkara tanah sengketa di belakang kantor Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Situbondo, Jawa Timur (Jatim) akhirnya dimenangkan oleh penggugatnya yakni Rusdiman alias Rus Asdiman alias Sunarbi Bin Subain (76), warga setempat melawan orang yang digugat yakni yang bernama Wirtono (40) beserta Sa’oda (istrinya), Sumarni (39) dan Misnawar (40).
Dalam salinan putusan perkara perdata di Pengadilan Negeri (PN) Situbondo yang bernomor 48/PDT.G/2009/PN.Stb tersebut, dijelaskan bahwa Wiryono yang memakai dua pengacara/kuasa hukum yakni Pudjiantoro, SH dan Dondin Maryasa Adam, SH itu telah dinyatakan kalah dalam berperkara seputar perdata.
Dalam salah satu item salinan putusan perkara itu yakni menimbang bahwa para penggugat dengan surat gugatannya yang dibuat dan ditandatangani oleh kuasanya tertanggal 23 Nopember 2009 itu telah didaftarkan di kepaniteraan Pengadilan Negeri Situbondo pada tanggal 23 Nopember 2009 dengan register perkara nomor: 48/Pdt.G/2009/PN.Stb mengemukakan hal-hal bahwa dahulu di desa yang sekarang berubah Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Situbondo hiduplah sepasang suami istriyang bernama Mohamad alias Asmin atau Mohamad Asmin dengan istrinya yang bernama Djamila Binti Sarikin yang dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Mohamad Bin Asmin yang telah meninggal dunia saat masih kecil mendahului kedua orang tuanya, dan juga dikisahkan bahwa dalam perkawinan suami istri Mohamad Asmin (almarhum) dengan Djamila Binti Sarikin (almarhumah) tidak dikaruniai ahli waris anak, sedangkan dalam perkawinan mereka telah meninggalkan harta peninggalan barang tidak bergerak yang diatasnamakan Mohamad Asmin berupa sebidang tanah pekarangan yang asalnya dari tanah sawah yang dikeringkan terletak di Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo dengan petok No 625 Persil 45 Klas S.III, dengan luas 0,356 atas nama dengan batas utara yang panjangnya 56,60 M adalah setelah ada jalan desa, lebar sekitar 2 M, ada pekarangan yang dahulu sawah milik Man/Kasirun. Sedangkan Batas timur dengan panjang 53,70 M adalah sawah milik H.Rapiudin/H.Misbah, batas Selatan dengan panjang 62,10 M adalah pekarangan Haerani/Masu, dan batas barat dengan panjang 46,60 M adalah setelah ada jalan desa, lebar sekitar 2 M, ada pekarangan yang dahulu sawah milik H. Anwar/Aspiyo.
Dan dalam akhir kalimat salinan putusan tersebut berbunyi: Menimbang bahwa karena sebagian dari petitum dalam gugatan para penggugat telah ditolak, makaa majelis hakim akan mempertimbangkan petitum perttama dari gugatan para penggugat agar majelis hakim menerima gugatan para penggugat untuk seluruhnya, maka seperti yang telah dipertimbangkan di atas ternyata gugatan para penggugat tidak dapat dibuktikan seluruh dalil petitum gugatannya sehingga tidak dapat dikabulkan dan dinyatakan ditolak untuk sebagian lainnya, juga menimbang bahwa oleh karena para penggugat tidak dapat membuktikan sebagian dalil gugatannya seperti telah dipertimbangkan di atas sehingga pokok perkara dikabulkan sebgaian, maka terhadap para tergugat patut untuk dihukum membayar biaya yang timbul dalam perkara ini. Dengan demikian terhadap petitum ke delapan yang pada pokoknya menyatakan menghukum para tergugta untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini patut untuk dikabulkan, mengingat ketentuan peraturan perundang-undanagn yang berlaku, HIR dan ketentuan peraturan lainnya yang bersangkutan dalam perkara ini.
Ketika dihubungi kompasiana di rumahnya, Rusdiman alais Rus Asdiman mengatakan bahwa,”Pada mulanya Wiryono itu pekerja saya (kuli saya) sejak tahun 1953, dia bekerja sebagai pencari rumput untuk binatang ternak keluarga saya kala itu, yang akhirnya, agar dia tidak wira-wiri pulang ke Dusun Peng Kepeng, akhirnya keluarga saya menyuruh Wiryono untuk tinggal bersama keluarga kami sejak tahun 1962 sampai Wiryono beristri sampai sekarang, eh kok tahu-tahu tanah pekarangan kami diakui sebagai miliknya, apa dia ndak berpikir bahwa dia itu memang kuli keluarga kami, lantas mana rasa terima kasih dia terhadap keluarha kami yang telah rela memberikan tempat secara gratis di pekarangan kami selama berpuluh tahun?” papar Rusdiman pada kompasiana.com di rumahnya, S
elasa malam (23/03). (ANS)
Dalam salinan putusan perkara perdata di Pengadilan Negeri (PN) Situbondo yang bernomor 48/PDT.G/2009/PN.Stb tersebut, dijelaskan bahwa Wiryono yang memakai dua pengacara/kuasa hukum yakni Pudjiantoro, SH dan Dondin Maryasa Adam, SH itu telah dinyatakan kalah dalam berperkara seputar perdata.
Dalam salah satu item salinan putusan perkara itu yakni menimbang bahwa para penggugat dengan surat gugatannya yang dibuat dan ditandatangani oleh kuasanya tertanggal 23 Nopember 2009 itu telah didaftarkan di kepaniteraan Pengadilan Negeri Situbondo pada tanggal 23 Nopember 2009 dengan register perkara nomor: 48/Pdt.G/2009/PN.Stb mengemukakan hal-hal bahwa dahulu di desa yang sekarang berubah Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Situbondo hiduplah sepasang suami istriyang bernama Mohamad alias Asmin atau Mohamad Asmin dengan istrinya yang bernama Djamila Binti Sarikin yang dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Mohamad Bin Asmin yang telah meninggal dunia saat masih kecil mendahului kedua orang tuanya, dan juga dikisahkan bahwa dalam perkawinan suami istri Mohamad Asmin (almarhum) dengan Djamila Binti Sarikin (almarhumah) tidak dikaruniai ahli waris anak, sedangkan dalam perkawinan mereka telah meninggalkan harta peninggalan barang tidak bergerak yang diatasnamakan Mohamad Asmin berupa sebidang tanah pekarangan yang asalnya dari tanah sawah yang dikeringkan terletak di Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo dengan petok No 625 Persil 45 Klas S.III, dengan luas 0,356 atas nama dengan batas utara yang panjangnya 56,60 M adalah setelah ada jalan desa, lebar sekitar 2 M, ada pekarangan yang dahulu sawah milik Man/Kasirun. Sedangkan Batas timur dengan panjang 53,70 M adalah sawah milik H.Rapiudin/H.Misbah, batas Selatan dengan panjang 62,10 M adalah pekarangan Haerani/Masu, dan batas barat dengan panjang 46,60 M adalah setelah ada jalan desa, lebar sekitar 2 M, ada pekarangan yang dahulu sawah milik H. Anwar/Aspiyo.
Dan dalam akhir kalimat salinan putusan tersebut berbunyi: Menimbang bahwa karena sebagian dari petitum dalam gugatan para penggugat telah ditolak, makaa majelis hakim akan mempertimbangkan petitum perttama dari gugatan para penggugat agar majelis hakim menerima gugatan para penggugat untuk seluruhnya, maka seperti yang telah dipertimbangkan di atas ternyata gugatan para penggugat tidak dapat dibuktikan seluruh dalil petitum gugatannya sehingga tidak dapat dikabulkan dan dinyatakan ditolak untuk sebagian lainnya, juga menimbang bahwa oleh karena para penggugat tidak dapat membuktikan sebagian dalil gugatannya seperti telah dipertimbangkan di atas sehingga pokok perkara dikabulkan sebgaian, maka terhadap para tergugat patut untuk dihukum membayar biaya yang timbul dalam perkara ini. Dengan demikian terhadap petitum ke delapan yang pada pokoknya menyatakan menghukum para tergugta untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini patut untuk dikabulkan, mengingat ketentuan peraturan perundang-undanagn yang berlaku, HIR dan ketentuan peraturan lainnya yang bersangkutan dalam perkara ini.
Ketika dihubungi kompasiana di rumahnya, Rusdiman alais Rus Asdiman mengatakan bahwa,”Pada mulanya Wiryono itu pekerja saya (kuli saya) sejak tahun 1953, dia bekerja sebagai pencari rumput untuk binatang ternak keluarga saya kala itu, yang akhirnya, agar dia tidak wira-wiri pulang ke Dusun Peng Kepeng, akhirnya keluarga saya menyuruh Wiryono untuk tinggal bersama keluarga kami sejak tahun 1962 sampai Wiryono beristri sampai sekarang, eh kok tahu-tahu tanah pekarangan kami diakui sebagai miliknya, apa dia ndak berpikir bahwa dia itu memang kuli keluarga kami, lantas mana rasa terima kasih dia terhadap keluarha kami yang telah rela memberikan tempat secara gratis di pekarangan kami selama berpuluh tahun?” papar Rusdiman pada kompasiana.com di rumahnya, S
elasa malam (23/03). (ANS)
Harga Solar Melonjak, Para Nelayan TPI Tanjung Kamal Tetap Melaut
Kendatipun pihak pemerintah belum juga mampu menurunkan harga eceran bahan bakar minyak (BBM) bensin dan solar, akan tetapi para nelayan di tempat pelelanmgan ikan (TPI) Tanjung Kamal, Kecamatan Mangaran, Situbondo, Jawa Timur (Jatim) masih saja/tetap melaut demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun kompasiana.com menyebutkan bahwa, sekelompok nelayan TPI Tanjung Kamal yang melaut tersebut adalah para nelayan setempat/lokal yakni kelompok nelayan/perahu “Rando Mando”, meskipun harus bewrsaing dengan para nelayan pendatang dari TPI Mimbo, namun mereka (nelayan Tanjung Kamal-red) masih saja bersemangat dengan daya saing yang sehat dan selalu menjauhi suasana-suasana rebutan wilayah.
Hingga hari ini, Selasa (30 Maret 2010) para nelayan TPI Tanjung Kamal meskipun tak pernah memperoleh bantuan kemudahan dari pemerintah, dalam hal ini yakni Dinas Perikanan & Kelautan Situbondo harus merogoh modal sendiri untuk membeli solar guna mencari ikan ke laut.
“Ya harus bagaimana lagi, mas, wong kita kan harus memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya, berarti kita para nelayan kan harus tetap melaut mencari ikan meskipun harga solar melambung tinggi. Sekarang har ga solar per liter kan Rp 5 ribu, kami kalau mau melaut harus mengisi solar sebanyak 10 liter, sedangkan hal itupun kami belum tentu memperoleh ikan tangkapan yang kami harapkan, terkadang kami merugi, ya rugi tenag ya rugi uang jika kami tak mendapatkan ikan sama sekali. Sedangkan harga ikan layang hasil tangkapan kami itu per kilo-nya hanya berkisar Rp 6 ribu, untuk ikan tengiri pada musim hujan itu per kilonya Rp 25 ribu,” ujar nelayan TPI Tanjung kamal, Asmuri (48) yang dibenarkan oleh Masro (45) kepada kompasiana.com, Selasa, (30/03) di tepi pantai. (ANS)
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun kompasiana.com menyebutkan bahwa, sekelompok nelayan TPI Tanjung Kamal yang melaut tersebut adalah para nelayan setempat/lokal yakni kelompok nelayan/perahu “Rando Mando”, meskipun harus bewrsaing dengan para nelayan pendatang dari TPI Mimbo, namun mereka (nelayan Tanjung Kamal-red) masih saja bersemangat dengan daya saing yang sehat dan selalu menjauhi suasana-suasana rebutan wilayah.
Hingga hari ini, Selasa (30 Maret 2010) para nelayan TPI Tanjung Kamal meskipun tak pernah memperoleh bantuan kemudahan dari pemerintah, dalam hal ini yakni Dinas Perikanan & Kelautan Situbondo harus merogoh modal sendiri untuk membeli solar guna mencari ikan ke laut.
“Ya harus bagaimana lagi, mas, wong kita kan harus memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya, berarti kita para nelayan kan harus tetap melaut mencari ikan meskipun harga solar melambung tinggi. Sekarang har ga solar per liter kan Rp 5 ribu, kami kalau mau melaut harus mengisi solar sebanyak 10 liter, sedangkan hal itupun kami belum tentu memperoleh ikan tangkapan yang kami harapkan, terkadang kami merugi, ya rugi tenag ya rugi uang jika kami tak mendapatkan ikan sama sekali. Sedangkan harga ikan layang hasil tangkapan kami itu per kilo-nya hanya berkisar Rp 6 ribu, untuk ikan tengiri pada musim hujan itu per kilonya Rp 25 ribu,” ujar nelayan TPI Tanjung kamal, Asmuri (48) yang dibenarkan oleh Masro (45) kepada kompasiana.com, Selasa, (30/03) di tepi pantai. (ANS)
Adegan Mesum di Pantai Patek Situbondo Kian Menjadi-jadi
Di tengah-tengah sibuknya para pejabat pemerintah kabupaten (Pemkab) beserta seluruh warga masyarakat Situbondo mempersiapkan persiapan pemilihan kepala daerah (Pilkada) pada bulan enam mendatang, justru suasana di pantai Patek hingga detik ini masih sangat/teramata memprihatinkan. Pasalnya, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun kompasiana.com menyebutkan bahwa, pantai Patek sebagai tempat wisata yang baru setelah Pantai Pasir Putih, ternyata masih sering mempertontonkan adegan mesum yang dilakukan oleh sejumlah pasangan muda-mudi yang lagi kasmaran.
Dan hal ini sungguh terasa bagi situasi dan kondisi yang memiriskan bagi pemerintahan desa Gelung karena pantai Patek berada dalam lokasi administrasi desa tersebut. Sebab, menurut kepala desa (Kades) Gelung yang enggan disebutkan namanya mengatakan,”Kami sudah berkali-kali memperingatkan kepada para pengunjung pantai Patek terutama kepada sejumlah pengunjung pasanagan remaja yang sering duduk-duduk di tepi pantai sering melakukan adegan mesum seperti pangku-pangkuan, berciuman dan bahkan lebih dari orang yangsedang hanya bercumbu, saya selaku kepala desa setiap memperingatkan mereka bahkabn mereka tambah beradegan mesra dan tanpa ada rasa sunghkan mereka berciuman di depan saya sebagai Kades Gelung, lantas di mana letak kesopanan dan adat ketimuran mereka, padahal mereka sering diberi arahan oleh para gurunya, maka dari itu saya ingin mengundang pejabat musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) yakni, Danramil, kapolsek, dan Camat untuk duduk bersama menyelesaikan permasalahan moral ini,” papar Kades Gelung kepada kompasiana, Rabu (31/03) di ruang kerjanya. (ANS)

Penyerobotan Tanah di Tenggir Kangkangi Keputusan Labforensik Polda Jatim
Sebidang sawah yang berukuran kurang lebih 7000. M2 yang berlokasi di desa Tenggir, Kecamatan Panji, Situbondo, Jawa Timur (Jatim) kini masih menyisakan persoalan sengketa yang tak berkesudahan.
Pasalnya, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun kompasiana.com menyebutkan bahwa, lahan sawah yang subur semula milik Jatim selaku tangan pertama tersebut tiba-tiba berpindah tangan ke orang lain dengan cara ditanami biji jagung oleh warga setempat yang bernama Madun (36). Madun telah menyerobot lahan sawah milik Jatim suami dari Hj Zainab yang telah diwariskan kepada anaknya yang bernama Suyitno dan kedua saudaranya.
Saat kompasiana bertandang ke rumah Suyitno di Desa Tenggir, pria berperawakan kurus itu menunjukkan bukti-bukti sah dan kuat atas kepemilikan lahan sawahnya yang berpetok nomor 227 persil nomor 101 S-II dengan luas 11/050 meter persegi, petok nomor 227 persil nomor 25 S-II dengan luas 7000 meeter per segi dan petok nomor 227 persil nomor 64 S-II dengan luas 7,360 meter per segi.
“Saya jadi heran dan kaget saat tahu bahwa lahan sawah milik kami itu tiba-tiba berpindah tangan dan tiba-tiba muncul sertifikat tanah dari BPN, dan lahan tanah sawah tersebut kemarin ditanami jagung oleh Madun dan dijaga oleh dua oknum anggota Polres di sawah, dan anehnya lagi saat saya bertanya dimana sertifikat tanah sawah itu, katannya ada di tangan seorang oknum anggota Polres Situbondo,” papar Suyitno di rumahnya, Kamis (18/04).
Pasalnya, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun kompasiana.com menyebutkan bahwa, lahan sawah yang subur semula milik Jatim selaku tangan pertama tersebut tiba-tiba berpindah tangan ke orang lain dengan cara ditanami biji jagung oleh warga setempat yang bernama Madun (36). Madun telah menyerobot lahan sawah milik Jatim suami dari Hj Zainab yang telah diwariskan kepada anaknya yang bernama Suyitno dan kedua saudaranya.
Saat kompasiana bertandang ke rumah Suyitno di Desa Tenggir, pria berperawakan kurus itu menunjukkan bukti-bukti sah dan kuat atas kepemilikan lahan sawahnya yang berpetok nomor 227 persil nomor 101 S-II dengan luas 11/050 meter persegi, petok nomor 227 persil nomor 25 S-II dengan luas 7000 meeter per segi dan petok nomor 227 persil nomor 64 S-II dengan luas 7,360 meter per segi.
“Saya jadi heran dan kaget saat tahu bahwa lahan sawah milik kami itu tiba-tiba berpindah tangan dan tiba-tiba muncul sertifikat tanah dari BPN, dan lahan tanah sawah tersebut kemarin ditanami jagung oleh Madun dan dijaga oleh dua oknum anggota Polres di sawah, dan anehnya lagi saat saya bertanya dimana sertifikat tanah sawah itu, katannya ada di tangan seorang oknum anggota Polres Situbondo,” papar Suyitno di rumahnya, Kamis (18/04).
Perlu diketahui bahwa sebelum tanah sawah tersebut diserobot dan ditanami jagung oleh Madun, sawah itu telah diperiksa oleh tim pusat la
boratorium forensik Polda Jawa Timur (Jatim) dengan nomor lab: 3334/DTF/2003 dengan berita acara “permeriksaan laboratorium kriminalistik Barang Bukti Tanda Tangan atas nama Sittiya alias Buk Emmar, Prayitno dan Yoyok Prayogi yang terdapat pada bukti Akta Tahun 1990″. (ANS)
boratorium forensik Polda Jawa Timur (Jatim) dengan nomor lab: 3334/DTF/2003 dengan berita acara “permeriksaan laboratorium kriminalistik Barang Bukti Tanda Tangan atas nama Sittiya alias Buk Emmar, Prayitno dan Yoyok Prayogi yang terdapat pada bukti Akta Tahun 1990″. (ANS)Di Wongsorejo, Petani Masih Dijajah Angan-angan, Harga Jagung Anjlok, Cabe Jadi Komoditas Primadona
Keberadaan harga jagung di Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) dalam enam bulan terakhir ini tampaknya tidak pernah berpihak kepada para petani. Pasalnya, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun PROSA
.com di lapangan menyebutkan bahwa harga panen jagung pada tahun 2010 saat ini lain dengan pada saat panen tahun-tahun kemarin yang harganya cukup bagus. Lain halnya dengan harga cabe/lombok yang pada tahun ini harga jualnya cukup menggairahkan bagi para petani setempat.
Saat kompasiana.com berupaya mengkonfirmasikan hal tersebut kepada sejumlah petani jagung mengatakan, “Memang pada tahun ini saya merasa rugi menanam jagung karena tidak seimbangn dengan harga pupuk yang harganya melambung tinggi, mas. Karena tahun ini harga jual jagung hanya bertahan pada harga Rp 2 juta per ton, sedangkan harga pupuk adalah Rp 160 ribu per kuintal, harga bibit adalah berkisar antara Rp 55 ribu hingga Rp 65 ribu per kilo dan masih banyak lagi yang harus saya keluarkan dana awal untuk menuju panen yang sukses,” ujar salah satu petani yang enggan disebutkan namanya kemarin.
Sementara itu perkembangan harga cabe/lombok di kecamatan Wongsorejo hingga saat ini masih cukup memberikan nilai jual yang layak bagi para petani. Harga cabe pada panen tahun ini berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu per kilo gram. Dan hal itu terbukti dari pengakuan salah satu petani cabe, Darmawi (45) warga dusun pal 7, desa Alas Buluh, Kecamatan Wongsorejo mengatakan,”Untuk harga cabe saat ini lebih tinggi dari tahun kemarin, mas. sebab tahun kemarin harga cabe tertinggi yakni mentok pada harga Rp 15 ribu, sedangkan pada tahun 2010 ini berkisar antara Rp 25 ribu hingga 35 ribu per kilonya, ya lumayanlah, mas.,” ujarnya. (ans/ari)
.com di lapangan menyebutkan bahwa harga panen jagung pada tahun 2010 saat ini lain dengan pada saat panen tahun-tahun kemarin yang harganya cukup bagus. Lain halnya dengan harga cabe/lombok yang pada tahun ini harga jualnya cukup menggairahkan bagi para petani setempat.
Saat kompasiana.com berupaya mengkonfirmasikan hal tersebut kepada sejumlah petani jagung mengatakan, “Memang pada tahun ini saya merasa rugi menanam jagung karena tidak seimbangn dengan harga pupuk yang harganya melambung tinggi, mas. Karena tahun ini harga jual jagung hanya bertahan pada harga Rp 2 juta per ton, sedangkan harga pupuk adalah Rp 160 ribu per kuintal, harga bibit adalah berkisar antara Rp 55 ribu hingga Rp 65 ribu per kilo dan masih banyak lagi yang harus saya keluarkan dana awal untuk menuju panen yang sukses,” ujar salah satu petani yang enggan disebutkan namanya kemarin.
Sementara itu perkembangan harga cabe/lombok di kecamatan Wongsorejo hingga saat ini masih cukup memberikan nilai jual yang layak bagi para petani. Harga cabe pada panen tahun ini berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu per kilo gram. Dan hal itu terbukti dari pengakuan salah satu petani cabe, Darmawi (45) warga dusun pal 7, desa Alas Buluh, Kecamatan Wongsorejo mengatakan,”Untuk harga cabe saat ini lebih tinggi dari tahun kemarin, mas. sebab tahun kemarin harga cabe tertinggi yakni mentok pada harga Rp 15 ribu, sedangkan pada tahun 2010 ini berkisar antara Rp 25 ribu hingga 35 ribu per kilonya, ya lumayanlah, mas.,” ujarnya. (ans/ari)
Ada Tembang “Teluk Bayur” di Pintu Masuk Terminal Arjosari Malang
Manusia yang ngepres ekonominya memang tiba-tiba harus dituntut kreatif oleh tuntutan hidup sehari-hari. Seperti halnya yang dilakukan salah satu pengamen permanent (tidak keliling) yang ngepos setiap hari di pintu masuk terminal Arjosari, Malang, Jawa Timur (Jatim) ini. Adalah Mbah Jhi (55), sang pengamen permanent tersebut. Mbah Jhi yang sudah bertahun-tahun menjadi “penunggu” pintu masuk di terminal Arjosari dengan cara menghibur para calon penumpang yang hilir mudik ini, dengan tuhan diberi semangat bertahan hidup dengan caranya sendiri yang kreatif. Dan kreatifitas yang diciptakan Mbah Jhi adalah memadukan 3 alat musik yang dimainkan oleh panca inderanya. Alat-alat musik tersebut terdiri dari harmonika yang ditiup dengan bibirnya, dua tamborin mini yang ditabuh dengan kedua tangannya bak alat musik drum sungguhan dan perkusi yang dijepitkan di sela-sela jemari kaki kanannya.
Adapun tembang-tembang yang dilagukannya terdiri dari tembang-tembang kenangan seperti Teluk Bayur dan lagu lagu ciptaan Koes Plus. Namun hanya instrumentalia saja, tanpa syair. (anies septivirawan)
Adapun tembang-tembang yang dilagukannya terdiri dari tembang-tembang kenangan seperti Teluk Bayur dan lagu lagu ciptaan Koes Plus. Namun hanya instrumentalia saja, tanpa syair. (anies septivirawan)
Awal Nopember, Masyarakat Kelurahan Banjarsari Banyuwangi Nikmati Air Bersih
Program Proyek Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) yang bergulir ke desa-desa di seluruh Indonesia tampaknya akan sangat berarti bagi masyarakat yang menikmatinya. Seperti halnya PNPM di Kelurahan Banjar Sari, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim). Program PNPM di Kelurahan tersebut berupa pengadaan air bersih melalui sebuah tandon yang dialirkan melalui pipa kepada rumah-rumah warga yang bersangkutan. Namun meski demikian, masyarakat kelurahan itu baru akan merasakan air bersih sekitar pada awal bulan Nopember 2010 mendatang.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun kompasiana di lapangan menyatakan bahwa lokasi atau titik yang akan dibangun pengadaan air bersih yakni berada di dua titik yang terdiri dari Lingkungan Gunung Sari dan juga di Lingkungan Pancoran.
“Pada tahun 2010 ini sudah kita usulka anggarannya, dan mungkin pengerjaan awal baru pada pertengahan bulan Oktober ini, mas,” ujar Kepala Kantor Kelurahan Banjar Sari, Drs. Ainur Rofiq kepada kompasiana di ruang kerjanya.
Sedangkan menurut Ketua TPK PNPM Kelurahan Banjarsari, Edy mengatakan,”Mungkin sekitar pada pertengahan atau akhir bulan Nopember sekitar 200 hingga 500 kepala keluarga (KK) warga masyarakat di Kelurahan Banjarsari sudah bisa menikmati adanya air bersih dari tandon yang disalurkan melalui pipanisasi ini, adapun nominal anggrannya berkisar kurang lebih Rp 230 juta, dan debit air berkisar 8 liter per detik, mas,”ujarnya kepada kompasiana.com beberapa waktu lalu. (ans)Lurah Banjarsari
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun kompasiana di lapangan menyatakan bahwa lokasi atau titik yang akan dibangun pengadaan air bersih yakni berada di dua titik yang terdiri dari Lingkungan Gunung Sari dan juga di Lingkungan Pancoran.
“Pada tahun 2010 ini sudah kita usulka anggarannya, dan mungkin pengerjaan awal baru pada pertengahan bulan Oktober ini, mas,” ujar Kepala Kantor Kelurahan Banjar Sari, Drs. Ainur Rofiq kepada kompasiana di ruang kerjanya.
Sedangkan menurut Ketua TPK PNPM Kelurahan Banjarsari, Edy mengatakan,”Mungkin sekitar pada pertengahan atau akhir bulan Nopember sekitar 200 hingga 500 kepala keluarga (KK) warga masyarakat di Kelurahan Banjarsari sudah bisa menikmati adanya air bersih dari tandon yang disalurkan melalui pipanisasi ini, adapun nominal anggrannya berkisar kurang lebih Rp 230 juta, dan debit air berkisar 8 liter per detik, mas,”ujarnya kepada kompasiana.com beberapa waktu lalu. (ans)Lurah Banjarsari
Petani Rumput Laut di Desa Alas Rejo Tak Pernah Dapat Bantuan Pemerintah
Sekelompok petani rumput laut di Dusun Kebon Rejo, Desa Alas Rejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) dalam dua tahun terakhir ini tampaknya harus bermodal sendiri. Sementara antara modal dengan pendapatan laba yang diharapkan tampaknya tidak selalu sebanding. Untuk itu para petani tersebut mesti bertekad membentuk kelompok-kelompok tani agar pemerintah mau memberikan bantuan.
Namun meskipun telah membentuk kelompok-kelompok, pemerintah yag dalam hal ini Dinas Perikanan & Kelautan Kabupaten Banyuwangi tidak jua mengucurkan dana bantuan bagi mereka. Padahal produksi rumput laut di tempat mereka cukup produktif sekali.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun kompasiana
menyebutkan bahwa produksi rumput laut di Dusun Kebon Rejo itu sempat bisa panen 3 hari sekali dengan produksi 3 hingga 5 ton. Menurut salah satu bagian pemasaran (Mohamad Zainuri) kelompok tani yang bernama “PENA MAS” (Peduli Nasib Masyarakat) mengatakan, “Untuk harga satu kilo rumput laut yang basah itu adalah Rp 1.100 dan harga rumput laut kering adalah Rp 9 ribu, sedangkan panen kami yakni 3 hari sekali mampu menembus berkisar antara 3 hingga 5 ton, akan tetapi pemerintah sidah dua tahun ke sekarang belum juga memperdulikan kami, yang artinya belum pernah mengucurkan dana bagi kami,” ujar Mohamad Zainurio kepada sejumlah wartawan di tepi pantai, Minggu (10/10).
Sementara itu ketika pihak Dinas Perikanan & Kelautan dihubungi terkait keluhan salah satu petani, dalam hal ini Ir. Suryono mengatakan,”Kita sdah menanggapi keluhan para petani, tapi mereka justru yang gak ngerti, diberi bantuan lantas dia asal comot anggota kelompok, kan repot bagi kami? Sedangkan orang yang bukan di bidangnya laut tiba-tiba direkrut jadi anggota kelompok tani,” ujarnya.
Namun meskipun telah membentuk kelompok-kelompok, pemerintah yag dalam hal ini Dinas Perikanan & Kelautan Kabupaten Banyuwangi tidak jua mengucurkan dana bantuan bagi mereka. Padahal produksi rumput laut di tempat mereka cukup produktif sekali.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun kompasiana
menyebutkan bahwa produksi rumput laut di Dusun Kebon Rejo itu sempat bisa panen 3 hari sekali dengan produksi 3 hingga 5 ton. Menurut salah satu bagian pemasaran (Mohamad Zainuri) kelompok tani yang bernama “PENA MAS” (Peduli Nasib Masyarakat) mengatakan, “Untuk harga satu kilo rumput laut yang basah itu adalah Rp 1.100 dan harga rumput laut kering adalah Rp 9 ribu, sedangkan panen kami yakni 3 hari sekali mampu menembus berkisar antara 3 hingga 5 ton, akan tetapi pemerintah sidah dua tahun ke sekarang belum juga memperdulikan kami, yang artinya belum pernah mengucurkan dana bagi kami,” ujar Mohamad Zainurio kepada sejumlah wartawan di tepi pantai, Minggu (10/10).
Sementara itu ketika pihak Dinas Perikanan & Kelautan dihubungi terkait keluhan salah satu petani, dalam hal ini Ir. Suryono mengatakan,”Kita sdah menanggapi keluhan para petani, tapi mereka justru yang gak ngerti, diberi bantuan lantas dia asal comot anggota kelompok, kan repot bagi kami? Sedangkan orang yang bukan di bidangnya laut tiba-tiba direkrut jadi anggota kelompok tani,” ujarnya.
Rumah & Keluarga Korban Banjir di Lingkungan Sukorojo Akan Direlokasi
Hujan deras yang mengguyur kota Banyuwangi pada malam Minggu (16/10) lalu telah menyisakan duka bagi sebagian warga masyarakat di Lingkungan Sukorojo, tepatnya di kawasan RT 01, RW II, Kelurahan Banjasari, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim). Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur tepat pada 5.00 WIB sore, tanggal 16 Oktober lalu juga telah memporakporandakan hati seorang wanita bernama Sriwati dan keluarganya di lokasi bantaran sungai/Kali Mungo tersebut.
Pasalnya, ketika
kompasiana mencoba mengikuti serombongan mobil tim dari Kesbanglinmas Banyuwangi beserta orang-orang Kelurahan Banjarsari tersebut, rumah Sriwati yang semi permanent dan bertengger di atas bantaran kali itu telah disapu bersih oleh luapan air sungai yang setinggi 1,5 meter.
Saat Sriwati ditanyakan salah satu orang dari Kelurahan Banjarsari, apakah mau rumahnya dipindahkan ke tempat yang lain yang lebih aman, wanita yang bersuamikan seorang pria pekerja di pabrik batu bata dan beranak satu ini mengaku bersedia direlokasi ke tempat lain yang lebih aman dari bencana banjir.
“Kalau saya sih iya-iya saja pak, asal tempat itu aman dari banjir dan saya beserta keluarga jadi aman dan tenang. Terus terang saya trauma atas kejadian alam ini, karena banjir yang datang pada malam hari itu datang tepat pukul setengah sembilan saat kami mau terlelap tidur, pak, jadi kami mau-mau saja dipindahkan ke tempat lain yang lebih aman, karena kami sekeluarga semuanya ada empat orang yang butuh ketenangan. Banjir yang datang pada malam hari itu telah menghanyutkan barang perabotan rumah tangga saya seperti kasur, dipan lemari dan banyak lag, kalau ditaksir kerugian kami sekitar kurang lebh lima jutaanlah pak,” papar Sriwati seolah bola matanya akan meneteskan cairan bening, Selasa (19/10) di tepi sungai yang telah menghempas masa depannya. (ANS)
kompasiana mencoba mengikuti serombongan mobil tim dari Kesbanglinmas Banyuwangi beserta orang-orang Kelurahan Banjarsari tersebut, rumah Sriwati yang semi permanent dan bertengger di atas bantaran kali itu telah disapu bersih oleh luapan air sungai yang setinggi 1,5 meter.
Saat Sriwati ditanyakan salah satu orang dari Kelurahan Banjarsari, apakah mau rumahnya dipindahkan ke tempat yang lain yang lebih aman, wanita yang bersuamikan seorang pria pekerja di pabrik batu bata dan beranak satu ini mengaku bersedia direlokasi ke tempat lain yang lebih aman dari bencana banjir.
“Kalau saya sih iya-iya saja pak, asal tempat itu aman dari banjir dan saya beserta keluarga jadi aman dan tenang. Terus terang saya trauma atas kejadian alam ini, karena banjir yang datang pada malam hari itu datang tepat pukul setengah sembilan saat kami mau terlelap tidur, pak, jadi kami mau-mau saja dipindahkan ke tempat lain yang lebih aman, karena kami sekeluarga semuanya ada empat orang yang butuh ketenangan. Banjir yang datang pada malam hari itu telah menghanyutkan barang perabotan rumah tangga saya seperti kasur, dipan lemari dan banyak lag, kalau ditaksir kerugian kami sekitar kurang lebh lima jutaanlah pak,” papar Sriwati seolah bola matanya akan meneteskan cairan bening, Selasa (19/10) di tepi sungai yang telah menghempas masa depannya. (ANS)
Kakek Samuri Merenggut Keperawanan Tosi di Kebun Kopi, Digrebek Warga
Untuk urusan libido/hasrat seksual bagi seorang lelaki mungkin tidak ada ujung pangkal umurnya. Karena libido itu terus ada selama hayat di kandung badan. Seperti halnya juga libido dari seorang kakek yang bernama Samuri dalam usia 60 tahun ini tampaknya selalu menemani di mana kesempatan dan cuaca dingin itu datang menyelimutinya, Samuripun tidak mungkin lagi mempedulikan siapa yang ada di depannya. Tidak terkecuali dengan wanita yang telah lupa ingatan alias gila di Dusunnya sendiri di Dusun Curah Putih, Desa Telogo Sari, Kecamatan Tiris, Probolinggo, Jawa Timur (Jatim).Adalah Tosy (34), wanita hilang ingatan itu yang telah diperawani oleh kakek Samuri saat Tosy sedang berada di sebuah kebun kopi yang jauh dari rumahnya. Dan kedatangan Tosy ke kebun kopi tersebut adalah atas ajakan kakek Samuri dengan cara diming-imingi sesuatu. Namun ternyata sesampainya di kebun kopi, kakek Samuripun menggagahi Tosy dengan berkali-kali, hingga nyaris robek alat vital wanita malang itu.
Namun tampaknya dewi fortuna masih sedikit berpihak kepada Tosy, karena salah satu warga ada yang melihat Kakek Samuri dan Tosy sedang main “kuda-kudaan” di kebun kopi, dan warga yang lainnyapun berbondong-bondong datang menggerebek adegan tidak senonoh yang dilakukan kakek bermoral bejat tersebut.Tosy pun langsung diamankan warga dan kakek Samuri dibawa ke rumah kepala desa Telogo Sari. Dan di rumah kepala desa ada banyak warga desa, anak pelaku, dan juga tentunya ada juga keluarga korban. Dalam ‘sidang’ di rumah Kades tersebut, anak pelaku tidak mengakui bahwa bapaknya (kakek Samuri-red) tidak pernah melakukan sebuah pemerkosaan terhadap Tosy, dan dia meminta hal tersebut dilanjutkan ke jalur hukum alias ke Mapolres Probolinggo.
Dan, walhasil, Tosypun divisum di Mapolres. Hingga kini kasus tersebut masih dalam penanganan pihak Perlindungan Perempuan & Anak (PPA) Polres Peobolinggo, Jawa Timur (Jatim). (ANS)
Kondisi Gedung SDN Panji Kidul I Rapuh, Kian Terpuruk, Nyaris Ambruk
Rapuh, terpuruk, dan nyaris ambruk. Tiga kata yang tidak sedap didengar telinga itulah yang kini tampaknya sedang akrab dengan kondisi gedung sekolah dasar negeri (SDN) Panji Kidul I yang berlokasi sekitar kurang lebih empat kilo meter dari pusat/jantung kota Kabupaten Situbondo, Jawa Timur (Jatim).
Saat kompasiana bertandang ke halaman sekolah tersebut, seorang pria paruh baya berseragam safari hitam keluar dari balik daun pintu bangunan tua SD tersebut, mendekat dan menyambut hangat dengan senyum atas kedatangan kompasiana. Pria paru baya itu adalah Kepala sekolah SDN I Panji Kidul, Nawi Dihardjo, Spd yang telah siap diwawancarai seputar keberadaan kondisi gedung sekolah tempat dia mengabdi sebagai insan pendidik.
Dan Kepala Sekolah SDN I Panji Kidul itupun langsung mengantar kompasiana ke tempat titik-titk kondisi gedung yang kritis di sebelah ruangan kerjanya. Benar saja, ternyata sebuah ruangan kelas yang telah lama tidak terpakai kini nyaris menjaadi sebuah gudang penyimpanan barang. Dan, atap-atap gentingnya sudah jebol. Kulit-kkulit tembok ruangannya juga telah mengelupas termakan waktu. Ya, maklum saja, SDN I Panji Kidul yang didirikan sejakk tanggal 7 September 1937 tersebut hingga saatt ini memang terkesan selalu luput dari perhatian pemerintah, khususnya perhatian dari pihak Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Situbondo.
Menurut Kasek SDN I Panji Kidul, Nawidihardjo, Spd, pada saat ini jumlah siswa-siswi keseluruhan adalah 37 orang dengan kapasitas 6 ruang kelas untuk kegiatan belajar-mengajar, serta jumlah guru tidak tetap (GTT) sebanyak 4 orang, PNS 4 orangg dan ditambah satu guru agama.
“SD ini adalah SD palingg tua yangg kondisinya seperti ini, jumlah siswa yang sedikit selaluu dijadikan kambing hitam untuk tidak memperoleh bantuan DAK, namun saya sebagai kepalaa sekolah tidak pernah berkecil hati. Meskipun kondisi SD kkami seperti ini, namun kami telah mendirikan sekolah gedung TK yang dibantu dengan dana ADD atas kebijakan kepala desa setempat, dan nama TK itu adalah TK “Dharma Wanita” dengan jumlah murid 25 anak. Dan meskipun saya baru tiga bulan memimpin SD ini, saya tak pernah patah semangat untuk membangun mental-mental dan jiwa anak didik saya,” papar Nawi Dihardjo, Spd dii ruangan kerjanya yang dulunya adalah ruangan kelas, Senin (01/11). (ANS)
Saat kompasiana bertandang ke halaman sekolah tersebut, seorang pria paruh baya berseragam safari hitam keluar dari balik daun pintu bangunan tua SD tersebut, mendekat dan menyambut hangat dengan senyum atas kedatangan kompasiana. Pria paru baya itu adalah Kepala sekolah SDN I Panji Kidul, Nawi Dihardjo, Spd yang telah siap diwawancarai seputar keberadaan kondisi gedung sekolah tempat dia mengabdi sebagai insan pendidik.
Dan Kepala Sekolah SDN I Panji Kidul itupun langsung mengantar kompasiana ke tempat titik-titk kondisi gedung yang kritis di sebelah ruangan kerjanya. Benar saja, ternyata sebuah ruangan kelas yang telah lama tidak terpakai kini nyaris menjaadi sebuah gudang penyimpanan barang. Dan, atap-atap gentingnya sudah jebol. Kulit-kkulit tembok ruangannya juga telah mengelupas termakan waktu. Ya, maklum saja, SDN I Panji Kidul yang didirikan sejakk tanggal 7 September 1937 tersebut hingga saatt ini memang terkesan selalu luput dari perhatian pemerintah, khususnya perhatian dari pihak Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Situbondo.
Menurut Kasek SDN I Panji Kidul, Nawidihardjo, Spd, pada saat ini jumlah siswa-siswi keseluruhan adalah 37 orang dengan kapasitas 6 ruang kelas untuk kegiatan belajar-mengajar, serta jumlah guru tidak tetap (GTT) sebanyak 4 orang, PNS 4 orangg dan ditambah satu guru agama.
“SD ini adalah SD palingg tua yangg kondisinya seperti ini, jumlah siswa yang sedikit selaluu dijadikan kambing hitam untuk tidak memperoleh bantuan DAK, namun saya sebagai kepalaa sekolah tidak pernah berkecil hati. Meskipun kondisi SD kkami seperti ini, namun kami telah mendirikan sekolah gedung TK yang dibantu dengan dana ADD atas kebijakan kepala desa setempat, dan nama TK itu adalah TK “Dharma Wanita” dengan jumlah murid 25 anak. Dan meskipun saya baru tiga bulan memimpin SD ini, saya tak pernah patah semangat untuk membangun mental-mental dan jiwa anak didik saya,” papar Nawi Dihardjo, Spd dii ruangan kerjanya yang dulunya adalah ruangan kelas, Senin (01/11). (ANS)
Langganan:
Postingan (Atom)









