Jumat, 17 Desember 2010

Revitalisasi Lelah

Seberat apapun, beban mesti dipikul, katamu
namun kepergianmu menambah kesunyianku
dan rasanya tak sanggup lagi menanggung semua beban yang kau
letakan di pundakku, rasa lelah dan sangsipun semakin dalam melukai sukmaku
hingga menusut tubuhku, begitu ujarmu pada lembar almanak
seputih kapas cintamu, semerah saga darah, kesetiaanmu mendidihkan gelisahku
kupungut lagi, lakon dan berserpih mutiara lelah
berserakan di sepanjang pantaimu
betapa hatiku kian lapar melukai semuanya ini
ketika fajar datang lagi menjemputku dari balik tirai
aku terperanjat melihat tugas-tugas kita yang semakin memberat saja
menumpuk dalam kisi-kisi sukma. melihatnya saja urat leherku meregang
namun kau pergi juga, ujarmu lagi, menangisi keajaiban cinta
bias dari semua gelisah, kuhentikan lelah yang melilit tubuhku
namun ketegangan memuncak di ulu hatiku.
seberat apapun, beban mesti dipikul, ulangmu lagi
masih terngiang di hatiku.

catatan kaki: puisi saya ini pernah dimuat di harian pagi RADAR BANYUWANGI edisi Sabtu, (tanggalnya lupa, April 2000)

Tidak ada komentar: