Mengguyur sejak sore di kotaku tak seorangpun
Menduga tentang awal luapan air akan menoreh
Di sepotong hati mereka yang kehilangan segalanya dicinta, segalanya dipuja, kini harus luluh lantak
Pada separuh malam tepat pukul 9.30 WIB
Aku yang gundah gulana memikirkan nasibku tiba-tiba
Kepanikan menyergap benak orang-orang
Luapan air yang tak punya bahasa kata
Menyeruak ke jalan-jalan jantung kotaku, jantungku dan
Jantung mereka berdebar!! Tidak percaya
Inikah yang dinamakan murka tuhan? Inikah keserakahan hatiku dan hati mereka terhadap alam?
Oh tuhan…..!!
Suratku dan surat-surat kalian yang telah tersirat
Dalam rangkuman doa-doa telah kukirimkan dengan selembar kerinduan: namun banjir menerobos doa-doa itu
Dan yang tersisa adalah puing-puing harapan, selebihnya, sejumput luka…..
Air bah yang menyapa jalan-jalan kotaku, menggali luka-lukaku yang kemarin, luka-luka mereka yang kehilangan segalanya.
Situbondo, 10 Pebruari 2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar