Jer basuki mowo beyo, artinya, untuk menggapai sebuah kebahagiaan memanglah harus memerlukan pengorbanan. Pepatah Jawa lama tersebut tampaknya memang sudah relevan dengan sebuah keberadaan pabrik batu bata yang belokasi di Dusun Peng-Kepeng, Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Situbondo, Jawa Timur (Jatim).
Pasalnya, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun kompasiana di lapangan menyebutkan bahwa, pengelola pabrik batu bata yang bernama Sumarwiya (50) ini sudah nyaris sepuluh tahun merintis usaha percetakan batu bata meskipun harus bermodalkan dengan uang pinjaman dari rentenir yang mematok bunga pinjaman sebesar Rp 10 persen.
Ketika kompasiana berupaya mewawancari Sumarwiyah di rumahnya mengatakan,”Untuk ongkos produksi rinciannya terdiri dari ongkos tukang cetak batu bata dalam per seribu-nya itu ongkosnya adalah Rp 50 ribu, beli kayu satu truk adalah lima ratus ribu, sekam satu truk harganya juga Rp 500 ribu, ongkos bakar per 1000 bata adalah Rp 125 ribu, nah, untuk memilik modal seperti itu saya pertama kali merintis usaha ini harus menggadaikan sepeda motor ke rentenir dengan bunga Rp 10 persen, mas,” ujar sumarwiyah di rumahnya akhir minggu lalu kepada kompasiana.
Ketika ditanyakan apakah pernah memperoleh bantuan dana dari pihak pemerintah, Sumarwiya menjelaskan bahwa tempat usahanya yang telah dikelolanya sudah sepuluh tahun itu pernah ditinjau oleh ppihak pemerintah dalam hal ini adalah Dinas Koperasi (Diskop UKM) Situbondo, namun para petugas survey hanya berjanji saja akan dikucurkan suntikan modal untuk perusahaan batu batanya selama ini.
(ANS).
Pasalnya, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun kompasiana di lapangan menyebutkan bahwa, pengelola pabrik batu bata yang bernama Sumarwiya (50) ini sudah nyaris sepuluh tahun merintis usaha percetakan batu bata meskipun harus bermodalkan dengan uang pinjaman dari rentenir yang mematok bunga pinjaman sebesar Rp 10 persen.
Ketika kompasiana berupaya mewawancari Sumarwiyah di rumahnya mengatakan,”Untuk ongkos produksi rinciannya terdiri dari ongkos tukang cetak batu bata dalam per seribu-nya itu ongkosnya adalah Rp 50 ribu, beli kayu satu truk adalah lima ratus ribu, sekam satu truk harganya juga Rp 500 ribu, ongkos bakar per 1000 bata adalah Rp 125 ribu, nah, untuk memilik modal seperti itu saya pertama kali merintis usaha ini harus menggadaikan sepeda motor ke rentenir dengan bunga Rp 10 persen, mas,” ujar sumarwiyah di rumahnya akhir minggu lalu kepada kompasiana.
Ketika ditanyakan apakah pernah memperoleh bantuan dana dari pihak pemerintah, Sumarwiya menjelaskan bahwa tempat usahanya yang telah dikelolanya sudah sepuluh tahun itu pernah ditinjau oleh ppihak pemerintah dalam hal ini adalah Dinas Koperasi (Diskop UKM) Situbondo, namun para petugas survey hanya berjanji saja akan dikucurkan suntikan modal untuk perusahaan batu batanya selama ini.
(ANS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar