| | | |
Setahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ditandai demonstrasi masih di banyak kota di Indonesia. Masih, karena kekecewaan yang mewujud dalam bentuk unjuk rasa merebak sampai ke kota-kota kabupaten.Satu tahun pemerintahan SBY periode kedua, terlepas dari perdebatan elite tentang indikator kinerja, hadir dengan akumulasi perkaya yang menumpuk sehingga menggelorakan ketidakpuasan. Perkara lama dan perkara baru tumpuk menumpuk.
Apresiasi adalah sikap spontan publik terhadap apa yang tangible. Mereka tidak perlu repot-repot mencari angka-angka untuk menjelaskan apa yang dirasakan.
Di sinilah letak perkara besar dengan pemerintahan sekarang. Antara retorika dan implementasi tidak nyambung. Retorika yang bagus-bagus dan sangat bijaksana berbenturan sangat diametral dengan fakta yang hidup dan dirasakan publik sehari-hari.
Ada jarak yang semakin menyingkirkan publik dari proses dan substansi pemerintahan.
Pemerintahan dipraktikkan sebagai pembahasan agenda oleh segelintir elite dan berhamba pada interst group yang sangat sedikit. Ya partai, ya DPR, ya birokrasi.
Kekecewaan publik yang kemudian menjelma menjadi revolusi, dari pengalaman sejarah, terjadi karena terlalu sedikit orang menikmati keuntungan dari penderitaan terlalu banyak dalam proses bernegara. Bibit-bibit itu mulai hadir dalam demonstrasi yang merebak pada setiap momentum.
Adalah paradoksal ketika SBY yang sangat dikenal dengan politik pencintraan, memimpin pemerintahan yang semakn merosot kadar apresiasi publik. Berarti ada yang salah.
Karena itu haruslah fokus pada upaya mempersempit apa yang diomongkan dengan apa yang dibuat dan dirasakan manfaatnya. Pemeritahan ini hanya memiliki satu-satunya good guy pada diri SBY. Yang lain tidak jahat, tetapi belum menjadi ikon yang memperkuat harapan.
Logika-logika manipulasi yang berlindung di balik jorgan kepentingan umum, demi hukum, misalnya, harus juga dipahami publik bahwa itu benar adanya, ketika logika itu meruncing kekecewaan, berarti adalah persempit jaka antara harapan dan kenyataan.
Masyarakat yang menderita karena proses penyelesaian perkara apa saja di tangan negara, tidak boleh diperlakukan sebagai pengemis keadilan. Orang yang menggelar lapak-lapak kekecewaan dalam demonstrasi kemarin adalah wakil dari banyak sekali warga yang secara tidak adil dirugikan. Ini salah satu yang memelorotkan apresiasi publik.
Masih ada empat tahun untuk membuktikan bahwa SBY memang bisa. Semoga tahun depan momentum tahun kedua pemerintahan diisi dengan apresiasi publik yang semakn demonstratif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar