Selasa, 14 Desember 2010

Memasarkan Buah Mangga Dinas Pertanian Buka Show Room



Foto JTC ; Shawroom Mangga di Kec. Panarukan
SITUBONDO-JTC,- Dalam rangka lebih mengembangkan potensi produksi buah mangga sekaligus mencari trobosan pemasaran, Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo membuka 2 show room buah mangga, di Jalur Pantura Situbondo.
Show Room buah mangga yang digagas oleh Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo ini, salah satunya bertujuan agar para pembeli buah mangga berkualitas tinggi ini tidak kebingungan untuk memperoleh mangga hasil petani Situbondo.
Dua show room yang sudah berdiri di wilayah Kecamatan Panarukan dan Jangkar Jalur Pantura Situbondo ini, memiliki akses yang cukup startegis, karena lokasinya sangat mudah dijangkau dan dikenali. Sehingga konsumen atau pembeli buah mangga asli Situbondo tersebut tidak susahpayah lagi untuk mendapatkan buah mangga yang akan dijadikan oleh-oleh buat keluarganya.
Dibukanya 2 show room mangga yang di-produksi petani Situbondo, merupakan langkah awal untuk lebih memaksimalkan pemasaran buah mangga Situbondo. Paket buah mangga yang berkualitas ini di-kemas dalam karton atau duzz berukuran sedang, dengan tujuan agar konsumen pleksibel dalam membawa buah mangganya. “Buah mangga berkualitas itu, kita kemas dalam duzz.” Kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo Ir. M. Sifa.
Untuk lebih memaksimalkan pemasaran mangga yang diproduksi petani mangga Situbondo, sambung Sifa, pihaknya siap untuk mengikuti berbagai kegiatan atau even pameran produk dalam negeri yang bertujuan untuk lebih memperkenalkan buah mangga asal Kabupaten Situbondo. **
VN:F [1.9.6_1107]

Dinas Pertanian Malang kembangkan budi daya tembakau dengan merangkul Mitra kerja


  
Salah satu kegiatan Dinas pertanian untuk  menyalurkan dana alokasi cukai tembakau  2009 dan 2010 dengan cara merangkul mitra kerja dibidang pengolahan hasil tembakau, Dalam tahun pertamanya kerjasama dengan PT sadana mengembangankan jenis tembakau Virginia sistem panennya dengan cara (oven atau rajang) dan Berley (diperam) namun belum secara menyeluruh  dalam artian untuk pembinaan tehknis petani tembakau maupun sebagai pasar penerima Hasil petani.
 
 Dalam tahun pertama  belum bisa mengalokasikan DAC secara langsung kepada petani dalam bentuk sarana produksi, namun menurut  kabid Produksi tanaman perkebunan Ir. Meniel Wahyuningsih  dinas pertanian baru bisa memberikan bantuan berupa peralatan pertanian semacam  gentraktor,pompa air, cangkul baik juga dalam pembinaan, di tahun 2010 ini dinas pertanian secara langsung mendampingi petani baik dalam pengembangan lahan dan sarana produksi, sehingga bila di tahun pertama sinas pertanian melepas langsung petani untuk bekerja sama dengan PT. Sadana dengan sistem pinjam bayar panen namun setelah ditahun pertama  dinas pertanian bekerja sama dengan BALITAS (Balai penelitian tanaman serat dan tembakau)untuk pemetaan areal mencari lokasi mana yang berpotensi untuk lahan tembakau maka dari itu ditahun kedua ini menurut beliau pihaknya telah menyiapkan 25 ha untuk lahan tembakau jenis oven dan 50 ha jenis tembakau rajangan. Tentunya dengan survey terlebih dahulu  melalui sistem seleksi Calon petani dan calon lahan (CPTL)dengan wadah gabungan kelompok tani yang Tersebar di beberapa kecamatan dikabupaten malang yaitu kec. Donomulyo, kec. Sumberpucung, Kec. Wonosari, kec. Poncokusumo, Kec. Tumpang. Dengan adanya pengembangan lahan yang semakin bertambah menurut Kadis Pertanian kabupaten malang  Ir. Purwanto “ selain dengan PT. Sadana kita mengembangkan lagi  bekerjasama dengan mitra  kerja baru PT.IDS (indonsia Dwi Sembilan) “.  dalam kerjasamanya dengan PT. IDS menurut kabid....khusus wilayah tkec. Tumpang  mencoba sistem jenis tembakau diperam , kegiatan sosialisai dilaksanakan mulai awal april 2010. Ditahun 2010 ini Dinas pertanian mendapatkan kucuran DAC sebesar Rp. 1.513.789.000,- Milyar turun dari alokasi awal sebesar 2,5 Milyar dikarenakan  adanya revisi untuk kelengkapan alat citiscane RSUD Kanjuruhan. Dalam pelaksanaan dilapangan PT. Sadana dan IDS mempunyai kesepakatan dengan para petani tembakau dalam segi hasil panen nantinya hasil panen para petani dinilai dengan gread dan ada petugas lapanga di masing-masing lokasi baik dari IDS maupun Sadana. Sementara Kendala yang dihadapi dilapangan untuk saat ini adalah fakor hujan yang tak kunjung selesai.
 

Senin, 13 Desember 2010

Bermain Bola di Atas Tanah Bekas Terjangan Banjir

Anaka-anak yang bermain bola di atas tanaah bekas terjangan banjir ini selalu ceria melewati sore hari yang bergelayut mendung, dan hujan tengah mengintip para penghubi bantaran/stren kali Ardirejo yang pernah dua kali diterjang bencana alam banjir pada tahun 2002 dan 2008 lalu. /ANS

Minggu, 12 Desember 2010

Mencicipi Sate Tahu di Bantara Kali Ardirejo

Kalau makanan penyempurna rasa yang satu ini bukanlah sate kambeng ataupun sate ayam. Akan tetapi, makanan ini adalah sate tahu yang dijual di daerah pinggiran bantaran kali bekas terjangan banjir 2002 dan 2008 lalu. Yah. salah satu korban banjir yang masih mencoba bertahan menjadi penghuni di pinggiran bantaran kali ini juga bertahan dengan kehidupannya sehari-hari dengan cara berjualan sate tahu.
Satu tahu ini seperti sate-sate biasa lainnya, juga dilumuri bumbu kacang dan sedikit petis dan juga sedikit garam serta gula yang cukupo. Dan rasanya, woouw…menggoda di kerongkongan. Sedangkan satu porsi sate tahu tersebut adalah Rp 5.000,-. Mau coba beli sate tahu? Mampir aja di bantaran kali bekas tempat terjangan bencana alam banjir di Kelurahan Ardirejo, Situbondo, Jawa Timur ini. Selamat mencoba….. /ANS
1292145338926040260
Sate Tahu

Sabtu, 11 Desember 2010

Polres Larang Edar Pupuk Bersubsidi


wis/zonaberita.com)
Bondowoso,( onemediasty;e.com)– Aparat Kepolisian Resor (Polres) Bondowoso, berhasil menggagalkan upaya pengiriman pupuk urea bersubsidi ke luar daerah,pada minggu yang lalu tepatnya di Desa Selolembu, Kecamatan Curahdami.
Dalam penangkapan ini, selain mengamankan sebuah truk Nopol P 9992 EW yang bermuatan sedikitnya 145 sak atau sekitar 7,25 ton pupuk urea, polisi juga mengamankan pengemudi truk. Yakni  Sudarsono (50), warga Desa Derutimur dan Tabah Wijaya (23), warga Desa Sumuragung, keduanya di Kecamatan Sumberejo, Bojonegoro.
Kapolres Bondowoso AKBP Bonny Djianto saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, berdasarkan pengakuan sopir truk, pupuk urea bersubsidi ini rencananya bakal dikirim ke daerah Lamongan.
“Saat ini, truk beserta pupuk urea sudah diamankan di Mapolres. Sementara sopir beserta kernetnya masih diperiksa secara intensif sebagai saksi,” ungkap AKBP Bonny Djianto, Jumat (10/12/2010).
Dari keterangan sementara sopir truk, lanjutnya, pupuk urea bersubsidi itu adalah milik ER (48), warga Desa Penambangan, Kecamatan Curahdami. Sedangkan sopir beserta kernetnya hanya bertugas mengangkut urea bersubsidi ke Lamongan.
Jika memang terbukti memperjualbelikan pupuk urea bersubsidi, mereka melanggar Peraturan Mendag No.21/M-Dag/PER/2/2008 yang telah diubah Peraturan Mendag No.7/M-Dag/PER/2/2009, tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian.
“Mereka juga melanggar UU Darurat No.7 Tahun 1955 tentang pengusutan, penuntutan, dan peradilan tindak pidana ekonomi dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara,” pungkas AKBP Bonny Djianto. (zb )

HTML

<script>
/** Tabloid PROSA **/
var sitti_pub_id = "BC0003452";
var sitti_ad_width = "336";
var sitti_ad_height = "280";
var sitti_ad_type = "2";
var sitti_ad_number = "3";
var sitti_ad_name = "Tabloid PROSA";
var sitti_dep_id = "4109";
</script>
<script src="http://202.52.131.5/delivery/sittiad.b1.js"></script>

SMP Negeri I Situbondo Kirim 25 Siswanya Dalam Paket Pertukaran Pelajar

Untuk yang pertama kalinya, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri I Situbondo, Jawa Timur (Jatim) akan memberangkatkan/mengirim siswa-siswinya yang berprestasi ke negeri singa, yakni Singapura/Singapore pada pertengahanm Januari 2011 mendatang.
Berdasarkan informasi di lapangan yang berhasil dihimpun menyebutkan bahwa segudang prestasi SMP Negeri I Situbondo itu kini akan mengantarkan nama harum sekolah tersebut ke dunia internasional/ke mata dunia. Program yang bernama “Pertukaran Pelajar ” tersebut akan diwakili 25 siswa-siswi yang sebelumnya telah mengikuti proses seleksi awal bersama sejumlah 261 siswa lainnya. Dan adapun ke-25 siswa-siswi tersebut yang akan diberangkatkan ke Singapura tersebut yakni berasal dari kelas 7, kelas 8 dan juga kelas 9 yang akan didampingi oleh 2 orang guru yang terdiri dari seorang guru MIPA, Andy Yulianto, S.com dan guru lainnya, yakni Sri Rahayu Supandi.
Menurut Kepala Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri I situbondo, Drs. Ibnu Hajar, Spd ketika ditemui di ruangan kerjanya mengatakan,”Adapun proses bagi para siswa yang mau diberangkatkan mengikuti program pertukaran pelajar tersebut yakni melalui berbagai seleksi dan proses seperti seleksi akademis dan juga seleksi wawancara dengan menggunakan bahasa Inggris dengan level TOEFL yang sempurna dan lancar. Dan mereka (ke-25 siswa-red) di Singapura itu selama 10 hari, yang terdiri dari 3 hari pertama yakni kegiatan proses pembelajaran pagi  hingga sore, sedangkan sore hingga malam yakni proses pembelajaran bidang seni dan budaya, kemudian ada juga persandingan semacam study banding mata pelajaran yang belum ada di sekolah Singapura akan di adopsi oleh siswa kita, demikian juga sebaliknya,” papar Drs.  Ibnu Hajar, Spd, Sabtu, (11/12) di ruang kerjanya. (ANS)
12920533851754674611
Kasek SMP Neegri I Situbondo

TK “Nurul Mansyur” Cetak Segudang Murid Berprestasi

Keberadaan sekolah taman kanak-kanak (TK) yangh bernaung di bawah sebuah Yayasan ini beridiri sejak tanggal 7 Juni 1991 berlokasi di Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Situbondo, Jawa Timur (Jatim). Dan pengasuhnya adalah KH. Miisbachul Munir . TK ini bernama TK “Nuruul Mansyur”
TK yang dipimpin oleh kepala sekolah bernama Zainiyah ini telah banyak mencetak para muridnya yang berprestasi. Dan yang paling mendominasi adalahh prestasi mewarnai. Selain prestasi mewarnai, TK Nurul Mansyur ini juga seringg mencetak murif berprestasi di bidang lompat jauh dan juga becak hias pada acara HUT Kemerdekaan tahun kemarin.TTK “Nurul Mansyur” termasuk berakreditasi B.
Menurut kepala sekolah TK “Nururl Mansyur” saat dihubungi di kantornya mengatakan,”Dan harapan saya terhadapp TK “Nuurul Mansyur” ini adalah agar lebih maju lagi dibandingg tahun-tahun kemarin,” ujarnya di ruang kerjanya, Rabu (03/11). (ANS)

Rumah & Keluarga Korban Banjir di Lingkungan Sukorojo Akan Direlokasi

Hujan deras yang mengguyur kota Banyuwangi pada malam Minggu (16/10) lalu telah menyisakan duka bagi sebagian warga masyarakat di Lingkungan Sukorojo, tepatnya di kawasan RT 01, RW II, Kelurahan Banjasari, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim). Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur tepat pada 5.00 WIB sore, tanggal 16 Oktober lalu juga telah memporakporandakan hati seorang wanita bernama Sriwati dan keluarganya di lokasi bantaran sungai/Kali Mungo tersebut.
Pasalnya, ketika
Rumah & Keluarga Korban Banjir di Lingkungan Sukorojo Akan Direlokasi
Rumah & Keluarga Korban Banjir di Lingkungan Sukorojo Akan Direlokasi
kompasiana  mencoba mengikuti serombongan mobil tim dari Kesbanglinmas Banyuwangi beserta orang-orang Kelurahan Banjarsari tersebut, rumah Sriwati yang semi permanent dan bertengger di atas bantaran kali itu telah disapu bersih oleh luapan air sungai yang setinggi 1,5 meter.
Saat Sriwati ditanyakan salah satu orang dari Kelurahan Banjarsari, apakah mau rumahnya dipindahkan ke tempat yang lain yang lebih aman, wanita yang bersuamikan seorang pria pekerja di pabrik batu bata dan beranak satu ini mengaku bersedia direlokasi ke tempat lain yang lebih aman dari bencana banjir.
“Kalau saya sih iya-iya saja pak, asal tempat itu aman dari banjir dan saya beserta keluarga jadi aman dan tenang. Terus terang saya trauma atas kejadian alam ini, karena banjir yang datang pada malam hari itu datang tepat pukul setengah sembilan saat kami mau terlelap tidur, pak, jadi kami mau-mau saja dipindahkan ke tempat lain yang lebih aman, karena kami sekeluarga semuanya ada empat orang yang butuh ketenangan. Banjir yang datang pada malam hari itu telah menghanyutkan barang perabotan rumah tangga saya seperti kasur, dipan lemari dan banyak lag, kalau ditaksir kerugian kami sekitar kurang lebh lima jutaanlah pak,” papar Sriwati seolah bola matanya akan meneteskan cairan bening, Selasa (19/10) di tepi sungai yang telah menghempas masa depannya. (ANS)

Kondisi Gedung SDN Panji Kidul I Rapuh, Kian Terpuruk, Nyaris Ambruk

Rapuh, terpuruk, dan nyaris ambruk. Tiga kata yang tidak sedap didengar telinga itulah yang kini tampaknya sedang akrab dengan kondisi gedung sekolah dasar negeri (SDN) Panji Kidul I yang berlokasi  sekitar kurang lebih empat kilo meter dari pusat/jantung kota Kabupaten Situbondo, Jawa Timur (Jatim).
Saat kompasiana bertandang ke halaman sekolah tersebut, seorang pria paruh baya berseragam safari hitam keluar dari balik daun pintu bangunan tua SD tersebut, mendekat dan menyambut hangat dengan senyum atas kedatangan kompasiana. Pria paru baya itu adalah Kepala sekolah SDN I Panji Kidul, Nawi Dihardjo, Spd yang telah siap diwawancarai seputar keberadaan kondisi gedung sekolah tempat dia mengabdi sebagai insan pendidik.
Dan Kepala Sekolah SDN I Panji Kidul itupun langsung mengantar kompasiana ke tempat titik-titk kondisi gedung yang kritis di sebelah ruangan kerjanya. Benar saja, ternyata sebuah ruangan kelas yang telah lama tidak terpakai kini nyaris menjaadi sebuah gudang penyimpanan barang. Dan, atap-atap gentingnya sudah jebol. Kulit-kkulit tembok ruangannya juga telah mengelupas termakan waktu. Ya, maklum saja, SDN I Panji Kidul yang didirikan sejakk tanggal 7 September 1937 tersebut hingga saatt ini memang terkesan selalu luput dari perhatian pemerintah, khususnya perhatian dari pihak Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Situbondo.
Menurut Kasek SDN I Panji Kidul, Nawidihardjo, Spd, pada saat ini jumlah siswa-siswi keseluruhan adalah 37 orang dengan kapasitas 6 ruang kelas untuk kegiatan belajar-mengajar, serta jumlah guru tidak tetap (GTT) sebanyak 4 orang, PNS 4 orangg dan ditambah satu guru agama.
“SD ini adalah SD palingg tua yangg kondisinya seperti ini, jumlah siswa yang sedikit selaluu dijadikan kambing hitam untuk tidak memperoleh bantuan DAK, namun saya sebagai kepalaa sekolah tidak pernah berkecil hati. Meskipun kondisi SD kkami seperti ini, namun kami telah mendirikan sekolah gedung TK yang dibantu dengan dana ADD atas kebijakan kepala desa setempat, dan nama TK itu adalah TK “Dharma Wanita” dengan jumlah murid 25 anak. Dan meskipun saya baru tiga bulan memimpin SD ini, saya tak pernah patah semangat untuk membangun mental-mental dan jiwa anak didik saya,” papar Nawi Dihardjo, Spd dii ruangan kerjanya yang dulunya adalah ruangan kelas, Senin (01/11). (ANS)

Mencicipi Es Oyen, Menghapus Dahaga di Situbondo yang Panas

Kabupaten Situbondo, Jawa Timur (Jatim) adalah Kabupaten di tepi pantai utara (Pantura) yang dekat dengan pesisir dan praktis udaranya panas. Para pedagang es mungkin adalah solusi bagi para pengunjung Situbondo yang kepanasan dan merasakan haus dahaga. Salah satunya pedagang Es “OYEN” yang setiap hari mangkaldi alun-alun Situbondo.
Menurut kabar burung yang aku denger, Es “OYEN” itu pada mulanya yang berjualan adalah orang-orang Jawa Barat (Jabar) yang merantau di Situbondo. Dan akupun mulai mencicipinya di alun-alun Kabupaten Situbondo. Dengan merogoh kocek Rp 3 ribu, semangkuk es “OYEN” telah terhidangkan di depan mataku.
Adapun isi dari menu Es “OYEN” tersebut adalah terdiri dari irisan buah alpukat, butiran mutiara, agar-agar,ketan ijo, dan cairan susu plus pecahan es batu. Dan Es “OYEN pun siap diminum. Hmm…rasa dahagapun mulai terhapus. (ANS)

Sanggar Seni “Wahana Puspa Budaya” Sumbang Tarian Buat Festival Budaya

Acara pelaksanaan festival budaya tinggal menghitung hari, tepatnya pada tanggal 4 Desember 2010 di Pendopo Kabupaten Situbondo, Jawa Timur (Jatim).  Sedangkan salah satu persiapan yang ditunjukkan oleh sanggar seni “Wahana Puspa Budaya” pada hari Sabtu (27/11) lalu adalah persiapan-persiapan latihan tari di Pendopo Kecamatan Panji.  Dan sanggar seni “Wahana Puspa Budaya” yang dikomandani oleh P. Tutun menurut rencana akan menyumbangkan sejumlah tari-tarian daerah yang dimainkan anak binaan P. Tutun.
Saat Ketua sanggar seni “Wahana Puspa Budaya”, P. Tutun dihubungi di sela-sela melatih tari di Pendopo Kecamatan Panji, pria berkumis kelahiran Madura tersebut mengatakan,”Kami selaku pembina dan pengelola sanggar seni “Wahana Puspa Budaya” ini rencananya akan menyumbangkan sejumlah tari-tarian daerah seperti tari yang berjudul “Giring Angen”, “En Maenan Pelthong” “Lanjheng”,  “Amaen Nak-Anakan” dan “Mongkor”. Dan dari sejumlah judul tarian tersebut diberi tema “Arokat Mengkang”, papar pria yang telah 4 tahun mengkomandani sanggar seni “Wahana Puspa Budaya”tersebut kepada kompasiana.com di halaman kantor Kecamatan Panji, Sabtu (27/11) lalu. (ANIES SEPTIVIRAWAN)

Dermaga Pelabuhan Panarukan Menunggu Tahun Operasional, Ditempati Mancing

Hoby memancing tidak saja bisa disalurkan di danau ataupun di sungai, di dermaga pelabuhan yang menjorok di Pantai Laut Panarukanpun bisa jadi. Dan hal itu setiap hari dilakukan oleh warga masyarakat Situbondo, Jawa Timur. Salah satu warga masyarakat Situbondo ini adalah seorang pensiunan pegawai negeri sipil yang berkediaman di Perumahan Nasional/Perumnas Panji Permai yang enggan dituliskan namanya berkomentar kepada kompasiana.com,”Saya hoby memancing di mana saja termasuk di dermaga pelabuhan Panarukan ini, mas. Dan saya baru kali ini mencoba-coba memancing di sini, biasanya saya memancing di tambak, siapa tau di sini saya bisa memperoleh ikan yang kakap, sembari menunggu tahun beroperasionalnya dermaga ini dua tahun lagi,” ujarnya di tengah dermaga.

Yang Tercatat Pada Awal April 2010

Ketika hatiku lelah dan ingin kulabuhkan di hati Fitri
senjapun beranjak dan menyapaku dengan lunglai
merebut pelabuhan hatiku yang terakhir dan semuanya
tlah kutumpahkan seperti apa yang sebelumnya
terpendam di perut bromo
Kaki Bromo, April

Jumat, 10 Desember 2010

Mereka yang Dibungkam

1291925624696504458
(alm) Munir dan istrinya, Suciwati
First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win. [Mahatma Gandhi]
Kemarin malam tayangan ‘Mata Najwa’ berbicara tentang orang-orang yang mati dalam usahanya mencari kebenaran. Marsinah, Udin, dan Munir. Mereka mati karena berani menentang kekuasaan yang lalim, yang tidak tahan kritikan, yang selalu menutupi kebenaran untuk berbagai macam kepentingan masing-masing.
Hal tersebut bukanlah cermin dari sebuah negara demokrasi. Kalau kata GIE puluhan tahun yang lalu: “kita seolah-olah merayakan demokrasi tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat yang merugikan pemerintah. Mereka yang berani menyerang koruptor-koruptor mereka semua ditahan.
Memberitakan sebuah kebenaran, menyampaikan pendapat atau kritikan kepada para penguasa, memang mempunyai sejumlah resiko yang tidak bisa dibilang mudah. Itu bisa kita lihat dari sejarah. Padahal hanya pada kebenaran kita bisa berharap. Selama televisi dan radio masih berteriak-teriak menyebarkan kebohongan, kita yang ada di dunia harus berani melawan. Meskipun kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu. Palsu! [GIE]
Tetapi biar bagaimana pun, kebenaran, seperti yang saya juga yakini, akan muncul “dengan sendirinya” meskipun banyak tangan yang berusaha menutupi. Ada yang waktunya singkat, tetapi ada pula kebenaran yang membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun untuk bisa mengapung ke permukaan dan dilihat semua orang.
Contoh saja bagaimana insiden pembantaian di Dili, Timor Timur, yang awalnya selalu ditutupi kebenarannya, tetapi pada akhirnya muncul ke permukaan juga.
Ketika pada suatu hari saya menerima skripsi berjudul Pemberitaan Peristiwa Santa Cruz, Timor Timur, dalam Majalah Jakarta Jakarta: Analisis Wacana Kritis Model Norman Fairclough atas rubrik “Gong!” pada majalah Jakarta Jakarta Edisi no. 282 (23-29 November 1991) dan Edisi no. 288 (4-10 Januari 1992), saya rasakan pada wajah saya terkembang suatu senyuman. Barangkali senyuman itu mempunyai suatu makna: “Begitulah, fakta yang semula maunya dibungkam, tak terbendung untuk terus menerus mengalami pembergandaan.
Mungkin saya lupa, justru karena dibungkam, fakta itu mendapatkan berbagai dimensi pembermaknaannya.

Saya tercekat, begitulah rupanya sejarah berlangsung. Bahkan pemberitaan tentang Insiden Dili di Jakarta Jakarta waktu itu sebetulnya juga belum mengungkap semuanya, tetapi 16 tahun kemudian penelitian atas bahasanya ternyata mampu membongkar yang tersembunyi–jejak sejarah itu terlacak melalui ilmu pengetahuan. Tentu melalui usaha keras untuk membongkarnya.
Pendapat yang pernah saya tulis … , bahwa “kebenaran” akan muncul “dengan sendirinya” harus saya akui keliru, karena ternyata apapun yang menjadi keyakinan haruslah diperjuangkan.
[Seno Gumira Ajidarma -Pengantar 'Trilogi Insiden']
Ya, kebenaran memang harus diperjuangkan. Fakta memang bisa dimanipulasi, tetapi kebenaran tidak akan pernah bisa ditutupi. Ia bagai emas yang terpendam jauh di dalam tanah, dan pada akhirnya menarik banyak orang yang berusaha menggalinya, berusaha menemukannya. Karena memang sebenarnya, kebenaran itu sangat berharga.
Walaupun dalam usaha mereka menggali untuk menemukan kebenaran, banyak hal yang harus dipertaruhkan, termasuk nyawa sang pencari kebenaran.
  • 11 Februari 2009, Anak Agung Gede Bagus Narendra Prabangsa, wartawan harian Radar Bali, dibunuh karena pemberitaannya yang kritis. Ia menulis tentang korupsi proyek Dinas Pendidikan, yang merugikan negara milyaran rupiah. Mayatnya dibuang ke pantai Padangbai, Karangasem, dan ditemukan lima hari kemudian di Teluk Bungsil. Otak pembunuhan berencana ini adalah I Nyoman Susrama, anggota DPRD II Bangli. I Nyoman Susrama dijatuhi hukuman seumur hidup.
  • Juli 2010, Ardiansyah, wartawan tabloid Jubi, dan Merauke TV ditemukan tewas dengan tubuh penuh luka di Sungai Gudang Arang. Sebelumnya korban pernah mendapat ancaman pembunuhan melalui pesan pendek. Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Jayapura menduga Ardiansyah dibunuh terkait pemberitaan Pilkada.
  • Natalia Estemirova, seorang aktivis asal Chechnya. Ia membuat dokumen tentang kasus pelanggaran yang dilakukan para penegak hukum. Natalia Estemirova juga melakukan penyelidikan terhadap pembunuhan ilegal dan eksekusi publik. Juli 2009, ia tewas dibunuh dengan dua (2) luka tembak di kepala.
  • Sali Grace, aktivis HAM asal Amerika Serikat. Aktif dalam gerakan protes terhadap gubernur Oaxaca, Meksiko: Ulises Ruiz, atas tuduhan korupsi. Pada 26 September 2008, Sali Grace diperkosa dan dibunuh.
  • Malcolm X, menteri muslim hitam Amerika. Aktif mendukung gerakan Black Power tahun 60 dan 70an, tewas dengan 16 peluru di tubuhnya pada 21 Februari 1965 saat berpidato.
  • Martin Luther King, aktif dalam penghapusan diskriminasi rasial Afrika-Amerika, ditembak saat berdiri di balkon kamar motel 4 April 1968. Pembunuhnya, James Earl Ray, akhirnya tertangkap. Dia adalah seorang rasis berkulit putih.
Menurut catatan Najwa juga, selama tahun 2010, ada 59 jurnalis di 25 negara menjadi korban pembunuhan. [Amerika Latin : 24 wartawan, Asia : 14 wartawan, Afrika : 9 wartawan]
Tetapi itulah resiko perjuangan mencari kebenaran. “…bahwa mereka mati itu bukan soal. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tiada indahnya penghukuman mereka. Tetapi apa yang lebih puitis? Selain bicara tentang kebenaran.” [GIE]
********/*******
Mungkin penguasa tidak pernah bisa belajar dari sejarah. Bahwa kebenaran selalu akan dicari, dan tidak akan pernah bisa ditutupi tanpa diketahui. Mungkin juga penguasa lupa akan sejarah. Bahwa kritikan yang membangun adalah baik untuk perkembangan sebuah jaman.
Meskipun dari sisi psikologis, sebuah kritikan yang menyerang ego seseorang bisa membuat orang tersebut lupa diri. Hingga kemudian berusaha mengantipati sebuah kritikan yang tertuju padanya, karena kritikan itu sangat mengena, telak, menyerang kemapanannya, mengganggu kenyamanannya. Walau hati nuraninya mengakui kritikan itu sebagai sebuah hal yang benar, tapi seringkali rasa egois yang dimilikinya membuatnya mati rasa.
Itulah sebabnya ada ancaman. Ada pembunuhan. Ada penghilangan. Ada pelanggaran kemanusiaan. Hanya karena seseorang kalap kepada sebuah kritikan, atau pada sebuah usaha yang mempertanyakan dan mencari kebenaran.
Ada pernyataan lucu, unik, atau bisa juga disebut ironi, yang dituliskan oleh Seno Gumira Ajidarma, perihal ancaman yang pernah tertuju padanya. Ancaman akibat dia menuliskan kebenaran.
Saya hanya akan menceritakan bagaimana peristiwa itu terasa dekat-dekat saja, yakni bahwa saya masih bisa mengingat wajah-wajah para pejabat militer dan para pejabat perusahaan tempat saya bekerja,yang setelah sepuluh tahun masih juga menerbitkan rasa iba pada diri saya. Itulah wajah-wajah kekuasaan yang angkuh tapi rapuh, jumawa tapi ketakutan, marah tapi tak berdaya–dan untuk kebakaran jenggot semacam itu, kebersalahannya harus ditimpakan kepada saya. Wajah pejabat militer yang membentak-bentak saya sebetulnya kasihan sekali, karena tampak betul ketakutannya kepada ia punya atasan, yang kemungkinan besar juga takut kepada atasannya lagi,atas bocornya berita pembantaian di Jakarta Jakarta. Seluruh usahanya untuk menimbulkan ketakutan kepada diri saya kurang berhasil, karena kemarahannya ternyata tidak sepenuh hati, namun ia wajib memberikan kesan kepada saya betapa pemuatan berita itu adalah kesalahan besar.

Saya hanya bisa mengatakan, situasi ini sangat khas di masa Orde Baru. Kami, para pekerja pers masa itu, telah akrab dengan ketakutan. Sebagian bisa main-main dengan ketakutan, sebagian lagi memelihara ketakutan itu, juga setelah Orde Baru tumbang.
Wajah-wajah yang saya ingat sampai sekarang itu adalah wajah-wajah pencari keselamatan, dan hal itu tentu saja manusiawi. Namun sampai seberapa jauh keselamatan yang satu boleh mengorbankan yang lain? Seberapa jauh pembantaian orang-orang tidak bersenjata boleh didiamkan, demi kepentingan apa pun dari lembaga manapun? Saya ingin mendengar sebuah jawaban.
Hari-hari itu saya memikirkan harga jiwa manusia. Saya menulis cerita dengan semangat perlawanan, antara lain, untuk melawan ketakutan saya sendiri–dan saya sungguh bersyukur telah mendapat pilihan untuk melakukannya. Penguasa datang dan pergi. Cerita saya masih ada.
Seno Gumira Ajidarma [catatan penulis: Saksi Mata]
********/*******
Kemudian seperti biasa, tayangan ‘Mata Najwa’ berakhir dengan sebuah catatan:
Penghilangan paksa, adalah metode universal para penguasa dunia. Penculikan, penembakan gelap, teror dan penghilangan orang dari atas udara, merupakan modus perang terhadap mereka yang dianggap musuh negara. Di Amerika Latin, di Afrika, di Asia Tenggara, kekerasan tanpa perikemanusian itu melembaga ke dalam negara, yang dikendalikan oleh rejim penguasa. Indonesia, tanpa kecuali. Sejak masa perang revolusi, hingga tragedi G30S yang menghabisi ratusan ribu simpatisan kiri. Dari kasus tanjung priok, hingga tragedi Trisakti, tumpahnya darah kerap mengancam demokrasi. Mereka mati dibungkam, karena dituduh subversi. Dianggap mengancam keamanan dalam negeri. Mereka harus rela mati dibungkam, agar para preman berdasi, pelanggar HAM, dan penjahat korupsi aman terlindungi. Sadarlah, penguasa! Jaman sudah jauh berubah. Siapa bisa melawan keniscayaan sejarah? Kini bukan saatnya lagi demokrasi harus tunduk pada moncong senjata terarah.
Catatan saya: penguasa seringkali lupa, bahwa mereka hidup di dunia yang fana. Sementara. Mereka yang mati akibat dibunuh oleh mereka, bisa saja akan dipertemukan kembali di alam baka. Sang penguasa di lorong menuju neraka, dan para pencari kebenaran melihatnya dari jendela yang ada di dalam surga. Dan pada saat itu yang berkuasa adalah Sang Raja Manusia. Sang penguasa yang selama di dunia berlaku lalim akan disiksa selamanya. Saat itulah penguasa dunia bisa tahu siapa yang lebih berkuasa. Meskipun sudah terlambat menyadarinya.
Yogyakarta, 09 Desember 2010 [9:10 AM]

Senin, 06 Desember 2010

Arus Air di DAM Pintu Lima Kotakan Deras, Warga Panik & Berkemas-kemas Mengungsi

SITUBONDO-(onemediastyle.com) Bencana banjir tahun 2002 & 2008 sepertinya akan terulang kembali. Pasalnya, sejumlah warga masyarakat mulai tepat pukul 8.30 WIB tampak sudah panik ketika mendengar bunyi deru derasnya aliran air di DAM Pintu Lima Kotakan, Situbondo, Jawa Timur (Jatim).
Sejumlah warga masyarakat yang trauma tersebut memang sangat beralasan, sebab sejak siang dan sore tadi, Minggu (06/12) Kabupaten Bondowoso diguyur hujan deras tanpa henti, dan otomatis air hujan itu mengalir ke sungai sehingga meluapkan aliran derasnya di sekitar aliran sungai di DAM Pintu Lima Kotakan hingga ke bantaran sungai Kelurahan Ardirejo dan juga di jembatan PLN Sumber Kolak.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun onemediastyle.com di lapangan menyebutkan bahwa, kepanikan warga Kelurahan Ardirejo sudah dibarengi oleh sikap siaga dengan cara berkemas-kemas barang-barang dan perabotan rumah tangganya yang akan dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
"Seja tadi pukul 20.00 WIB, saya sedang asik menonton acara pertandingan tinju Chris John di televisi tiba-tiba saya mendengar suara gemuruh air yang menderu dan saya langsung mengkontak sanak sodara terdekat saya serta para tetangga untuk mengkemas barang-barang perabotannya yang dianggap perlu untuk diamankan dari bencana banjir seperti pada peristiwa banjir Oktober 2008 lalu," ujar warga Ardirejo, Muni (50) kepada www.onemediastyle.com di halaman rumahnya yang sudah digenangi air setinggi lutut orang dewasa. (ANS/Hari)

Rabu, 24 November 2010

Warga Tamansari Bondowoso Unjuk Rasa, Desak Bupati Tutup SPBE

Tepat pada pukul 11.30 WIB, Hari Selasa (24/11) siang tadi, puluhan warga Kelurahan Tamansari berunjuk rasa ke halaman gedung dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) Bondowoso, Jawa Timur (Jatim). Adapun opsi atau tuntutan puluhan warga tersebut menginginkan/mendesak  Bupati Bondowoso, H. Amin Sa’id agar segera menutup stasiun pengisian bahan bakar elpiji (SPBE) di Kelurahan Tamansari.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun kompasiana.com di lapangan menyebutkan bahwa, setelah ngeluruk dan menyalurkan aspirasinya ke halaman kantor DPRD, puluhan warga tersebut meneruskan menyampaikan aspirasinya ke jalan depan kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso, Jawa Timur (Jatim).
Dan di jalan depan kantor tepat di depan pintu gerbang Pemkab tersebut, puluhan warga yang berjalan kaki/long march dari halaman Kantor DPRD ke depan kantor Pemkab tersebut akhirnya berorasi sembari meneriakkan yel-yel: “Tutup SPBE di Tamansari! Tutup SPBE di Tamansari…..!!!”
Dan wargapun  tetap ngotot berupaya akan menemui Bupati Bondowoso guna membicarakan kemudharatan SPBE di Kelurahan Tamansari tersebut. (ANS)
12905185971385305944
puluhan warga Tamansari Bondowoso Demo SPBE

Kamis, 18 November 2010

Harga BBM Bakal Naik, Konsumen SPBU di 3 Kabupaten Antre

Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin ditengarai bakal naik lagi. Hal itu terlihat dari hari ke hari konsumen bensin selalu antre di stasiun pengisian bahan bakar minyak (SPBU). Dan hal itu tidak hanya terjadi di satu Kabupaten, bahkan 3 Kabupaten di eks-Karesidenan Besuki, para konsumen sudah antre membeli bensin pada siang hingga sore hari.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Tabloid PROSA menyebutkan bahwa para konsumen yang antre di  3 Kabupaten tersebut yakni kabupaten Situbondo, Bondowoso dan juga Jember. Menurut pantauan Tabloid PROSA di lapangan, antrean konsumen yang terjadi di SPBU-SPBU Situbondo telah berlangsung 3 hari. Dan antrean konsumen yang terjadi di Kabupaten Bondowoso yakni mulai terlihat pada tanggal 15/11 tepat pukul 02.00 WIB hingga 05.00 WIB sore. Antrean konsumen bensin di Bondowoso tersebut berlangsung di SPBU Tamansari, dan juga di SPBU Maesan serta di SPBU Kecamatan Klabang. Sementara itu di SPBU Kecamatan Tenggarang dan di SPBU Kembang,  Bondowoso tampak sepi, bahkan tutup dan tampak terlihat papan bertuliskan : "BENSIN HABIS".

Menurut salah satu karyawan di  SPBU Maesan kepada PROSA mengatakan," Antrean konsumen bensin untuk kendaraan roda dua/sepeda motor sudah berlangsung mulai jam 2 siang hingga sekarang jam lima sore, namun harga bensin biasa masih belum naik, harganya tetap Rp 4.500 per liter," ujarnya, Rabu (15/11). (ANS/HAR/JHN/NUS)

Rabu, 10 November 2010

Pembinaan Anggota Linmas di Kecamatan Arjasa Situbondo

Sebuah acara pembinaan anggota lintas masyarakat (Linmas) se-Kecamatan Arjasa telah berlangsung beberapa waktu lalu di Pendopo Kecamatan Arjasa, Situbondo, Jawa Timur (Jatim). Adapun dalam acara tersebut juga dihadiri oleh para anggota koramil serta anggota Polsek Arjasa selaku pembina dan juga sebagai nara sumber langsung terhadap anggota Linmas seluruh Kecamatan Arjasa.
Sedangkan tujuan dari pada diselenggarakannya acara tersebut, menurut Sekretarsis Kecamatan (Sekcam) Arjasa, Syaiful Bari, S.sos, MM kepada kompasiana mengatakan bahwa,”Pembinaan untuk para anggota Linmas se-Kecamatan Arjasa ini adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) khususnya Linmas di tingkat desa agar bisa mengetahui cara menangani dan melumpuhkan penjahat atau perampok maupun pembuat  onar. Dan selain itu, agar linmas tahu prosedur pelaporan jika terjadi permasalahan keamanan yang ditimbulkan oleh manusia ataupun alam.  Dan juga mengetahui tata cara baris berbaris (PBB). Sedangkan yang terakhir adalah untuk mengaktifkan penjagaan pos-pos keamanan lingkungan (kamling) baik yang ada di desa-desa maupun yang ada  di dusun-dusun, sedangkan harapan saya ke depan yakni agar pembinaan linmas ini agar berkesinambungan sehingga ke depannya, pelatihan ataupun diklat terhadap anggota linmas secara kontinyu itu harus dilaksanakan,” pungkas Syaiful Bari, S.sos, MM kepada kompasiana di ruang kerjanya, Rabu (10/11). (ANS)12894034251096639000