Jumat, 10 Desember 2010

Mereka yang Dibungkam

1291925624696504458
(alm) Munir dan istrinya, Suciwati
First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win. [Mahatma Gandhi]
Kemarin malam tayangan ‘Mata Najwa’ berbicara tentang orang-orang yang mati dalam usahanya mencari kebenaran. Marsinah, Udin, dan Munir. Mereka mati karena berani menentang kekuasaan yang lalim, yang tidak tahan kritikan, yang selalu menutupi kebenaran untuk berbagai macam kepentingan masing-masing.
Hal tersebut bukanlah cermin dari sebuah negara demokrasi. Kalau kata GIE puluhan tahun yang lalu: “kita seolah-olah merayakan demokrasi tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat yang merugikan pemerintah. Mereka yang berani menyerang koruptor-koruptor mereka semua ditahan.
Memberitakan sebuah kebenaran, menyampaikan pendapat atau kritikan kepada para penguasa, memang mempunyai sejumlah resiko yang tidak bisa dibilang mudah. Itu bisa kita lihat dari sejarah. Padahal hanya pada kebenaran kita bisa berharap. Selama televisi dan radio masih berteriak-teriak menyebarkan kebohongan, kita yang ada di dunia harus berani melawan. Meskipun kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu. Palsu! [GIE]
Tetapi biar bagaimana pun, kebenaran, seperti yang saya juga yakini, akan muncul “dengan sendirinya” meskipun banyak tangan yang berusaha menutupi. Ada yang waktunya singkat, tetapi ada pula kebenaran yang membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun untuk bisa mengapung ke permukaan dan dilihat semua orang.
Contoh saja bagaimana insiden pembantaian di Dili, Timor Timur, yang awalnya selalu ditutupi kebenarannya, tetapi pada akhirnya muncul ke permukaan juga.
Ketika pada suatu hari saya menerima skripsi berjudul Pemberitaan Peristiwa Santa Cruz, Timor Timur, dalam Majalah Jakarta Jakarta: Analisis Wacana Kritis Model Norman Fairclough atas rubrik “Gong!” pada majalah Jakarta Jakarta Edisi no. 282 (23-29 November 1991) dan Edisi no. 288 (4-10 Januari 1992), saya rasakan pada wajah saya terkembang suatu senyuman. Barangkali senyuman itu mempunyai suatu makna: “Begitulah, fakta yang semula maunya dibungkam, tak terbendung untuk terus menerus mengalami pembergandaan.
Mungkin saya lupa, justru karena dibungkam, fakta itu mendapatkan berbagai dimensi pembermaknaannya.

Saya tercekat, begitulah rupanya sejarah berlangsung. Bahkan pemberitaan tentang Insiden Dili di Jakarta Jakarta waktu itu sebetulnya juga belum mengungkap semuanya, tetapi 16 tahun kemudian penelitian atas bahasanya ternyata mampu membongkar yang tersembunyi–jejak sejarah itu terlacak melalui ilmu pengetahuan. Tentu melalui usaha keras untuk membongkarnya.
Pendapat yang pernah saya tulis … , bahwa “kebenaran” akan muncul “dengan sendirinya” harus saya akui keliru, karena ternyata apapun yang menjadi keyakinan haruslah diperjuangkan.
[Seno Gumira Ajidarma -Pengantar 'Trilogi Insiden']
Ya, kebenaran memang harus diperjuangkan. Fakta memang bisa dimanipulasi, tetapi kebenaran tidak akan pernah bisa ditutupi. Ia bagai emas yang terpendam jauh di dalam tanah, dan pada akhirnya menarik banyak orang yang berusaha menggalinya, berusaha menemukannya. Karena memang sebenarnya, kebenaran itu sangat berharga.
Walaupun dalam usaha mereka menggali untuk menemukan kebenaran, banyak hal yang harus dipertaruhkan, termasuk nyawa sang pencari kebenaran.
  • 11 Februari 2009, Anak Agung Gede Bagus Narendra Prabangsa, wartawan harian Radar Bali, dibunuh karena pemberitaannya yang kritis. Ia menulis tentang korupsi proyek Dinas Pendidikan, yang merugikan negara milyaran rupiah. Mayatnya dibuang ke pantai Padangbai, Karangasem, dan ditemukan lima hari kemudian di Teluk Bungsil. Otak pembunuhan berencana ini adalah I Nyoman Susrama, anggota DPRD II Bangli. I Nyoman Susrama dijatuhi hukuman seumur hidup.
  • Juli 2010, Ardiansyah, wartawan tabloid Jubi, dan Merauke TV ditemukan tewas dengan tubuh penuh luka di Sungai Gudang Arang. Sebelumnya korban pernah mendapat ancaman pembunuhan melalui pesan pendek. Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Jayapura menduga Ardiansyah dibunuh terkait pemberitaan Pilkada.
  • Natalia Estemirova, seorang aktivis asal Chechnya. Ia membuat dokumen tentang kasus pelanggaran yang dilakukan para penegak hukum. Natalia Estemirova juga melakukan penyelidikan terhadap pembunuhan ilegal dan eksekusi publik. Juli 2009, ia tewas dibunuh dengan dua (2) luka tembak di kepala.
  • Sali Grace, aktivis HAM asal Amerika Serikat. Aktif dalam gerakan protes terhadap gubernur Oaxaca, Meksiko: Ulises Ruiz, atas tuduhan korupsi. Pada 26 September 2008, Sali Grace diperkosa dan dibunuh.
  • Malcolm X, menteri muslim hitam Amerika. Aktif mendukung gerakan Black Power tahun 60 dan 70an, tewas dengan 16 peluru di tubuhnya pada 21 Februari 1965 saat berpidato.
  • Martin Luther King, aktif dalam penghapusan diskriminasi rasial Afrika-Amerika, ditembak saat berdiri di balkon kamar motel 4 April 1968. Pembunuhnya, James Earl Ray, akhirnya tertangkap. Dia adalah seorang rasis berkulit putih.
Menurut catatan Najwa juga, selama tahun 2010, ada 59 jurnalis di 25 negara menjadi korban pembunuhan. [Amerika Latin : 24 wartawan, Asia : 14 wartawan, Afrika : 9 wartawan]
Tetapi itulah resiko perjuangan mencari kebenaran. “…bahwa mereka mati itu bukan soal. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tiada indahnya penghukuman mereka. Tetapi apa yang lebih puitis? Selain bicara tentang kebenaran.” [GIE]
********/*******
Mungkin penguasa tidak pernah bisa belajar dari sejarah. Bahwa kebenaran selalu akan dicari, dan tidak akan pernah bisa ditutupi tanpa diketahui. Mungkin juga penguasa lupa akan sejarah. Bahwa kritikan yang membangun adalah baik untuk perkembangan sebuah jaman.
Meskipun dari sisi psikologis, sebuah kritikan yang menyerang ego seseorang bisa membuat orang tersebut lupa diri. Hingga kemudian berusaha mengantipati sebuah kritikan yang tertuju padanya, karena kritikan itu sangat mengena, telak, menyerang kemapanannya, mengganggu kenyamanannya. Walau hati nuraninya mengakui kritikan itu sebagai sebuah hal yang benar, tapi seringkali rasa egois yang dimilikinya membuatnya mati rasa.
Itulah sebabnya ada ancaman. Ada pembunuhan. Ada penghilangan. Ada pelanggaran kemanusiaan. Hanya karena seseorang kalap kepada sebuah kritikan, atau pada sebuah usaha yang mempertanyakan dan mencari kebenaran.
Ada pernyataan lucu, unik, atau bisa juga disebut ironi, yang dituliskan oleh Seno Gumira Ajidarma, perihal ancaman yang pernah tertuju padanya. Ancaman akibat dia menuliskan kebenaran.
Saya hanya akan menceritakan bagaimana peristiwa itu terasa dekat-dekat saja, yakni bahwa saya masih bisa mengingat wajah-wajah para pejabat militer dan para pejabat perusahaan tempat saya bekerja,yang setelah sepuluh tahun masih juga menerbitkan rasa iba pada diri saya. Itulah wajah-wajah kekuasaan yang angkuh tapi rapuh, jumawa tapi ketakutan, marah tapi tak berdaya–dan untuk kebakaran jenggot semacam itu, kebersalahannya harus ditimpakan kepada saya. Wajah pejabat militer yang membentak-bentak saya sebetulnya kasihan sekali, karena tampak betul ketakutannya kepada ia punya atasan, yang kemungkinan besar juga takut kepada atasannya lagi,atas bocornya berita pembantaian di Jakarta Jakarta. Seluruh usahanya untuk menimbulkan ketakutan kepada diri saya kurang berhasil, karena kemarahannya ternyata tidak sepenuh hati, namun ia wajib memberikan kesan kepada saya betapa pemuatan berita itu adalah kesalahan besar.

Saya hanya bisa mengatakan, situasi ini sangat khas di masa Orde Baru. Kami, para pekerja pers masa itu, telah akrab dengan ketakutan. Sebagian bisa main-main dengan ketakutan, sebagian lagi memelihara ketakutan itu, juga setelah Orde Baru tumbang.
Wajah-wajah yang saya ingat sampai sekarang itu adalah wajah-wajah pencari keselamatan, dan hal itu tentu saja manusiawi. Namun sampai seberapa jauh keselamatan yang satu boleh mengorbankan yang lain? Seberapa jauh pembantaian orang-orang tidak bersenjata boleh didiamkan, demi kepentingan apa pun dari lembaga manapun? Saya ingin mendengar sebuah jawaban.
Hari-hari itu saya memikirkan harga jiwa manusia. Saya menulis cerita dengan semangat perlawanan, antara lain, untuk melawan ketakutan saya sendiri–dan saya sungguh bersyukur telah mendapat pilihan untuk melakukannya. Penguasa datang dan pergi. Cerita saya masih ada.
Seno Gumira Ajidarma [catatan penulis: Saksi Mata]
********/*******
Kemudian seperti biasa, tayangan ‘Mata Najwa’ berakhir dengan sebuah catatan:
Penghilangan paksa, adalah metode universal para penguasa dunia. Penculikan, penembakan gelap, teror dan penghilangan orang dari atas udara, merupakan modus perang terhadap mereka yang dianggap musuh negara. Di Amerika Latin, di Afrika, di Asia Tenggara, kekerasan tanpa perikemanusian itu melembaga ke dalam negara, yang dikendalikan oleh rejim penguasa. Indonesia, tanpa kecuali. Sejak masa perang revolusi, hingga tragedi G30S yang menghabisi ratusan ribu simpatisan kiri. Dari kasus tanjung priok, hingga tragedi Trisakti, tumpahnya darah kerap mengancam demokrasi. Mereka mati dibungkam, karena dituduh subversi. Dianggap mengancam keamanan dalam negeri. Mereka harus rela mati dibungkam, agar para preman berdasi, pelanggar HAM, dan penjahat korupsi aman terlindungi. Sadarlah, penguasa! Jaman sudah jauh berubah. Siapa bisa melawan keniscayaan sejarah? Kini bukan saatnya lagi demokrasi harus tunduk pada moncong senjata terarah.
Catatan saya: penguasa seringkali lupa, bahwa mereka hidup di dunia yang fana. Sementara. Mereka yang mati akibat dibunuh oleh mereka, bisa saja akan dipertemukan kembali di alam baka. Sang penguasa di lorong menuju neraka, dan para pencari kebenaran melihatnya dari jendela yang ada di dalam surga. Dan pada saat itu yang berkuasa adalah Sang Raja Manusia. Sang penguasa yang selama di dunia berlaku lalim akan disiksa selamanya. Saat itulah penguasa dunia bisa tahu siapa yang lebih berkuasa. Meskipun sudah terlambat menyadarinya.
Yogyakarta, 09 Desember 2010 [9:10 AM]

1 komentar:

Anonim mengatakan...

dicopy dari http://hukum.kompasiana.com/2010/12/10/mereka-dibungkam/